Indonesia Memperkuat Agenda Kelautan di Forum Dunia
Pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, menjadi momen penting bagi Indonesia dalam memperkuat agenda kelautan. Acara ini menarik ribuan peserta dari berbagai negara, termasuk para pemimpin negara, tokoh politik, dan eksekutif perusahaan global. Dalam pertemuan ini, isu air dan laut mendapat perhatian khusus melalui pendekatan yang dikenal sebagai Blue Davos.
Hendra Yusran Siry, Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, menjelaskan bahwa tema utama yang diangkat dalam Blue Davos adalah Spirit of Dialogue. Tema ini menekankan pentingnya dialog lintas negara dan sektor dalam menghadapi ketegangan geopolitik yang semakin kompleks.
Isu Air dan Laut Mendapat Perhatian Khusus
Dalam kerangka Blue Davos, isu air ditempatkan sebagai fondasi keberlanjutan global. Tekanan terhadap ekosistem perairan semakin nyata, mulai dari peningkatan suhu laut hingga risiko banjir yang menjangkau miliaran penduduk dunia. Selain itu, sumber air tawar juga semakin menyusut, yang berdampak pada kebutuhan dasar manusia.
Di sisi lain, nilai ekonomi dari ekosistem perairan sangat besar, namun investasi di sektor ini masih relatif rendah. Untuk mengatasi hal ini, fokus dilakukan pada tiga pilar utama, yaitu:
- Pengelolaan dan akses air tawar
- Ketahanan pangan biru
- Perlindungan laut dan penguatan ekonomi biru
Hendra berharap, dengan adanya fokus tersebut, investasi di bidang ekonomi biru dapat meningkat secara signifikan.
Diplomasi Ekonomi Biru dan Ocean Impact Summit
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat diplomasi ekonomi biru. Delegasi Indonesia mengikuti berbagai agenda utama, termasuk forum bertema percepatan ekonomi biru yang mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, lembaga riset, pelaku usaha, hingga sektor keuangan global.
Selain itu, KKP juga menggelar kegiatan sampingan untuk memperkenalkan Ocean Impact Summit (OIS), sebuah forum internasional yang akan diselenggarakan di Bali pada Juni mendatang. Ajang ini diharapkan menjadi wadah pertemuan lintas negara, ilmu pengetahuan, dan sektor swasta dalam membahas dampak serta peluang sektor kelautan.
Doni Ismanto, Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Humas dan Komunikasi Media, menjelaskan bahwa OIS merupakan forum bertaraf internasional yang sedang dipersiapkan secara intensif. Ia menyebutkan bahwa acara ini akan dihadiri oleh banyak kepala negara, pejabat dari organisasi non-pemerintah internasional, dan pemangku kepentingan lainnya.
Promosi Konsep Pangan Biru
Di sela rangkaian kegiatan WEF, KKP juga memanfaatkan Paviliun Indonesia untuk mempromosikan konsep pangan biru kepada audiens global. Literasi mengenai ragam sumber protein laut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman tentang potensi kelautan Indonesia.
Kerja Sama Internasional dalam Penyelenggaraan OIS
Penguatan kerja sama internasional menjadi bagian penting dari langkah tersebut. Desri Yanti, Ketua Tim Kerja Sama Multilateral KKP, menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan WEF sebagai bentuk kolaborasi dalam penyelenggaraan OIS.
Dengan bekerja sama dengan WEF, diharapkan Indonesia dapat meningkatkan kredibilitas kegiatan OIS secara global. Kolaborasi ini juga akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang aktif dalam memajukan agenda kelautan di tingkat internasional.
Tinggalkan Balasan