Mengenal boulevard, jalan lebar yang sering menghiasi perumahan elit

Daerah13 Dilihat

Istilah boulevard mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Kata ini kerap digunakan sebagai nama jalan utama di kawasan perkotaan, pusat bisnis, hingga perumahan kelas atas.

Tak sedikit pengembang properti menggunakan istilah boulevard untuk menamai jalan utama di dalam kawasan perumahan.

Biasanya, jalan tersebut memiliki ukuran yang lebih lebar, jalur yang tertata, serta dilengkapi pepohonan atau lanskap di sisi jalan.

Namun, boulevard sebenarnya bukan sekadar sebutan untuk jalan yang lebar.

Mengenal Jalan Boulevard

Mengutip Britanica, boulevard adalah jalan raya lebar yang ditata dengan lanskap. Jalan ini biasanya memiliki beberapa jalur lalu lintas kendaraan sekaligus menyediakan ruang bagi pejalan kaki.

Salah satu ciri yang menonjol adalah keberadaan elemen lanskap seperti pepohonan di sepanjang jalan.

Penataan tersebut bukan hanya berfungsi mempercantik kawasan, tetapi juga menjadi bagian dari konsep desain jalan.

Sebagai poros utama sebuah kota atau kawasan, boulevard dirancang untuk memberikan pandangan yang panjang dan terbuka. Pepohonan yang ditanam di sepanjang jalan juga dapat meminimalkan gangguan visual dari sisi samping.

Karena karakteristik tersebut, boulevard sering menjadi elemen penting dalam rancangan kota maupun kawasan hunian.

Konsep boulevard ternyata memiliki sejarah panjang. Boulevard paling awal diketahui dibangun di wilayah Timur Tengah kuno, khususnya di Antiokhia.

Dalam perkembangannya, konsep jalan lebar yang ditata dengan lanskap kemudian muncul dalam berbagai bentuk dan diterapkan di sejumlah kota besar di dunia.

Jalan boulevard tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi. Jalan tersebut juga menjadi bagian dari wajah sebuah kota, sekaligus ruang yang menghubungkan berbagai kawasan penting.

Identik dengan Jalan Lurus

Salah satu karakter boulevard adalah bentuknya yang lurus dengan tata ruang yang presisi.

Konsep boulevard yang lurus dan geometris berkaitan dengan prinsip desain yang diajarkan di Ecole des Beaux-Arts di Paris, Perancis. Pendekatan ini menekankan keteraturan, simetri, serta komposisi ruang yang terencana.

Berbeda dengan pendekatan tersebut, jalan raya yang berkelok-kelok lebih banyak ditemukan dalam aliran perencanaan kota yang bersifat naturalistik.

Pendekatan naturalistik mulai berkembang sejak akhir abad ke-19. Jalan dibuat mengikuti kontur maupun karakter alami kawasan sehingga menghasilkan bentuk yang lebih berliku dan tidak terlalu kaku.

Dengan demikian, bentuk jalan dapat mencerminkan filosofi perencanaan kota yang digunakan dalam pembangunannya.

Boulevard dengan karakter formal, geometris, dan melengkung dapat ditemukan di sejumlah kawasan yang sebelumnya merupakan lokasi benteng pertahanan.

Contohnya terdapat di Wina dan Praha. Setelah fungsi pertahanan kota berubah, sejumlah kawasan bekas benteng kemudian ditata kembali dan menjadi bagian dari struktur kota.

Dalam perkembangan kota, bekas kawasan benteng tersebut dapat dimanfaatkan untuk menciptakan jalan-jalan yang lebar dan memiliki nilai estetika.

Jalan boulevard juga dapat sengaja dimasukkan ke dalam rencana tata kota sejak awal.

Salah satu contoh paling terkenal adalah jaringan jalan yang mengarah ke Place Charles de Gaulle di Paris. Kawasan tersebut sebelumnya dikenal dengan nama Place d’Étoile.

Jalan-jalan raya yang lebar di Washington, D.C., Amerika Serikat, juga menjadi contoh bagaimana boulevard dapat menjadi bagian dari perencanaan sebuah kota.

Konsep jalan raya lebar dengan tepian yang ditata menggunakan lanskap juga memiliki istilah berbeda di Italia.

Di negara tersebut, jalan raya lebar dengan sisi yang ditata menggunakan lanskap dapat disebut sebagai corso atau largo.

Jalan Boulevard di Perumahan Elit

Di Indonesia, istilah boulevard cukup populer di sektor properti, terutama pada kawasan perumahan dengan konsep pengembangan berskala besar.

Ini karena perumahan-perumahan skala kecil memiliki keterbatasan lahan, sehingga tak memungkinkan pengembang membangun jalan boulevard.

Pengembang biasanya menjadikan boulevard sebagai jalan utama yang menjadi orientasi kawasan.

Jalan ini dapat menghubungkan gerbang utama dengan berbagai fasilitas, seperti area komersial, pusat komunitas, ruang terbuka, maupun cluster hunian.

Lebar jalan dan lanskap yang tertata juga membuat boulevard memberikan kesan lebih luas dan eksklusif.

Tak heran jika jalan utama dengan pepohonan, median yang tertata, serta jalur kendaraan yang lebar kerap menjadi salah satu elemen visual yang ditonjolkan dalam pemasaran sebuah kawasan perumahan.

Meski demikian, sebuah jalan tidak otomatis menjadi boulevard hanya karena memiliki nama “boulevard”. Secara konsep, boulevard memiliki karakter sebagai jalan raya yang lebar dan dirancang bersama elemen lanskap serta ruang bagi pejalan kaki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *