Tokoh-tokoh dunia berkumpul bahas masa depan AI: Jangan sampai manusia jadi korban teknologi

Daerah63 Dilihat

,DENPASAR – Kecerdasan buatan (AI) berkembang begitu cepat. Namun, di tengah euforia teknologi tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah AI akan membuat kehidupan manusia lebih baik, atau justru membuat manusia kehilangan sesuatu yang paling mendasar dari dirinya?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu fokus World Encounter Summit 2026 yang mempertemukan pemimpin pemerintah, pemuda, akademisi, tokoh agama, perusahaan teknologi, hingga masyarakat sipil dari berbagai negara di Bali.

Rangkaian forum dimulai melalui Bali Harmony Dialogue, Kamis (3/9/2026), di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.

Forum tersebut kemudian dilanjutkan dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 pada 4-6 September 2026.

Para peserta dari lima benua membahas dampak AI terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.

Yang menjadi perhatian adalah kesenjangan dalam perkembangan AI.

Tidak semua negara memiliki akses yang sama terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, maupun kemampuan mengatur teknologi tersebut.

Karena itu, pemerataan manfaat AI dinilai bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga menyangkut keadilan sosial, ekonomi, moral, dan lingkungan.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut B. Pandjaitan mengatakan Indonesia harus membangun kapasitas sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi.

“Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM,” tandas Luhut.

Sementara Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan tingginya penggunaan AI oleh generasi muda Indonesia harus diikuti penguatan riset, talenta, infrastruktur, dan kebijakan.

“Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional,” ujar Meutya.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar pasar bagi produk AI dari negara lain.

Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado, mengingatkan bahwa pertanyaan terbesar di era AI bukan hanya tentang apa yang mampu dilakukan mesin.

Menurutnya, dunia juga harus menentukan manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama teknologi tersebut.

Forum ini kemudian mengajak peserta melihat kembali kemampuan manusia yang tidak mudah digantikan mesin, seperti berpikir kritis, kreativitas, empati, etika, dan partisipasi demokratis.

Konsep dialog menggunakan inspirasi Agora, ruang publik Yunani kuno yang menjadi tempat masyarakat bertemu, bertukar gagasan, dan menguji pemikiran.

Selain Scholas Chairs Congress, rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 juga menghadirkan konferensi mengenai pengetahuan dan kearifan masyarakat adat serta Young Changemaker Programme (YCP).

Program tersebut mempertemukan pemuda berusia 18-24 tahun untuk membahas masa depan manusia di tengah otomatisasi dan perkembangan AI.

Pesannya jelas, AI boleh semakin pintar tetapi manusia tidak boleh kehilangan kemanusiaannya.

World Encounter Summit dan Young Changemakers Programme terselenggara melalui kolaborasi Scholas Occurrentes, University of Meaning, Global Humanity for Peace Institute, Guerrand-Hermes Foundation for Peace, dan United In Diversity Foundation.

Sejumlah perusahaan dan institusi turut mendukung kegiatan tersebut, di antaranya Astra, Pertamina, Freeport Indonesia, BRI, Danantara, Sinar Mas, PT Gajah Tunggal Tbk., dan KEK Kura Kura Bali. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *