AFC Mempermudah Jalannya Qatar dan Arab Saudi ke Piala Dunia 2026, Dominasi Negara Kaya

Oleh: Akmal Marhali

Pendiri Save Our Soccer


TRIBUN-SULBAR.COM

– Keputusan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menunjuk Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia bukan sekadar keputusan teknis.

According to me, that is a politically charged decision with vested interests. In a competition format where only three teams meet in a single round-robin group stage, being the host has become very crucial. And now, two countries that are also participants are granted this special privilege.

Perlu kita ketahui bersama, Qatar dan Arab Saudi bukan pemain baru dalam panggung kekuasaan sepak bola Asia. Qatar telah membuktikan kapasitasnya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, dengan investasi infrastruktur mencapai USD 67 miliar dan menghasilkan sport tourism senilai USD 220 miliar.

Sementara Arab Saudi, melalui Public Investment Fund (PIF), membangun Saudi Pro League dengan mendatangkan bintang-bintang dunia seperti Cristiano Ronaldo, Neymar, dan Karim Benzema.

Tidak hanya itu, Arab Saudi juga telah ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Asia 2027 dan berbagai turnamen kelompok usia hingga 2028. Bahkan, negeri petrodollar itu sudah ditetapkan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034.

Saat ini, dengan hanya dua kemenangan di kandang sendiri, Qatar dan Arab Saudi bisa mengamankan tiket ke Piala Dunia 2026. Sementara itu, tim-tim lain seperti Indonesia, Irak, Oman, dan UEA harus bertarung di medan yang bukan milik mereka, tanpa dukungan penuh suporter dan dalam atmosfer yang jelas menguntungkan tuan rumah.

Lebih jauh, baik Qatar maupun Arab Saudi juga tercatat sebagai sponsor resmi Piala Dunia 2026 melalui perusahaan milik negara mereka—Qatar Airways dan Aramco—yang menjadi mitra utama FIFA. Maka tak berlebihan jika muncul pertanyaan: apakah AFC secara tidak langsung membuka jalan bagi dua negara Teluk ini untuk “diloloskan” ke Piala Dunia? Hal itu harus dijawab secara terbuka oleh AFC.

Federasi seperti Irak, Oman, dan UEA bahkan sempat melayangkan protes dan meminta laga digelar di tempat netral, namun diabaikan. Indonesia sendiri, meski sempat mengajukan diri sebagai tuan rumah, kalah dalam proses seleksi yang disebut-sebut berdasarkan peringkat FIFA—padahal transparansi proses itu pun dipertanyakan.

Jika AFC terus mengambil keputusan yang memperkuat dominasi negara-negara kaya, maka sepak bola Asia akan kehilangan keseimbangannya. Kompetisi bukan lagi soal siapa yang paling siap secara teknis, tapi siapa yang paling kuat secara struktural dan finansial.

Dan dalam lanskap seperti ini, pertanyaan tentang keadilan tidak hanya sah—ia menjadi keharusan. Karena sepak bola, pada akhirnya, bukan hanya tentang siapa yang menang. Tapi juga tentang siapa yang diberi kesempatan untuk bertarung secara setara.

Implikasi Dari Keputusan AFC

Keputusan AFC menunjuk Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah babak keempat Kualifikasi Piala Dunia Asia bisa memberi dampak yang lebih luas dari sekadar siapa yang lolos.

Menurut saya hal Ini menyentuh arah perkembangan sepak bola Asia secara struktural, ekonomi, dan bahkan kultural. Berikut beberapa implikasi yang mungkin muncul:

1. Sentralisasi Kekuatan di Asia Barat

Dominasi tuan rumah oleh negara-negara Teluk memperkuat kesan bahwa kekuasaan sepak bola Asia kian berpusat di kawasan tersebut. Mereka tidak hanya menguasai organisasi dan sumber daya, tapi kini juga panggung kompetitif. Negara-negara seperti Indonesia, Uzbekistan, atau Thailand pun bisa merasa berada di pinggiran sistem, bukan bagian dari pusat.

2. Standar Baru: Siapa yang Berinvestasi Paling Banyak, Dialah yang Berkuasa

Langkah AFC ini seolah-olah menegaskan bahwa kekuatan finansial menentukan arah sepak bola. Negara-negara yang mampu membangun infrastruktur megah dan mendatangkan sponsor besar, secara otomatis mendapat perlakuan istimewa. Hal ini dapat memicu efek domino, mendorong negara-negara lain untuk mengutamakan investasi jangka pendek demi pencitraan, daripada pembangunan akar rumput dan sistem usia dini.

3. Penurunan Kepercayaan pada Fair Play dan Netralitas AFC

Banyak pengamat dan federasi sepak bola bisa mulai mempertanyakan netralitas AFC. Ketika keputusan-keputusan strategis terlihat terlalu berpihak, maka legitimasi organisasi pun bisa tergerus. Ini bukan cuma soal hasil pertandingan, tapi soal rasa memiliki terhadap ekosistem sepak bola Asia secara keseluruhan.

Potensi Ketimpangan Kompetitif Jangka Panjang

Jika dominasi tuan rumah dan keuntungan struktural terus berlanjut, maka sepak bola Asia bisa semakin timpang. Negara-negara yang tidak mendapat akses ke panggung-panggung strategis akan kesulitan untuk berkembang. Ini bisa menghambat munculnya “kekuatan baru” dari Asia Tenggara, Asia Tengah, atau Timur.

Namun, di sisi lain, keputusan ini juga bisa menjadi kenyataan pahit bagi negara-negara seperti Indonesia: bahwa pembangunan sepak bola tidak bisa hanya mengandalkan semangat nasionalisme, tetapi harus dibarengi dengan strategi diplomasi olahraga, pengaruh regional, dan alokasi anggaran yang visioner. (*)

*Penulis adalah Founder dari Save Our Soccer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *