forumnusantaranews.com
,
Jakarta
– Cuaca
hujan
kembali melingkupi wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jakarta dan sekitarnya atau Jabodetabek, beberapa hari terakhir. Hujan dengan intensitas tinggi, berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), telah mengakibatkan
BMKG
), kembali ke Jabodetabek hampir setiap hari sejak Senin lalu–di tengah keterlambatan awal musim kemarau.
Menurut peneliti di Pusat Riset Iklim dan atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, cuaca saat ini akan bertahan setidaknya hingga akhir bulan. “Seiring dengan dinamika pertumbuhan vorteks yang akan terus meluas dan menguat serta bergeser ke utara,” katanya kepada Tempo dalam keterangan tertulis, Kamis 19 Juni 2025.
Erma menunjuk pusaran angin skala meso di Samudra Hindia dekat barat daya Banten. Pada Kamis, Erma menyebut kalau vorteks itu telah terbentuk selama dua hari. Kondisi inilah yang, menurut dia, dapat menjelaskan mengapa kembali terjadi hujan yang intensif di wilayah Indonesia bagian barat selama Juni ini–yang biasanya sudah memasuki musim kemarau.
“Vorteks itu menyebabkan hujan mengalami propagasi yang kuat dari laut ke darat dan sebaliknya, terutama terjadi di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek),” kata Erma.
Menurut Profesor Riset di bidang Klimatologi itu, peran siklonik vorteks di Samudra Hindia sangat dominan dalam memengaruhi musim kemarau pada tahun ini. Trennya bahkan telah diketahui dari hasil studi tim peneliti di BRIN terhadap 50 kejadian vorteks di Samudra Hindia selama 2019-2022.
“Secara konsisten identik menyebabkan kemarau yang cenderung basah di Indonesia,” kata Erma menjelaskan.
Temuan tersebut dipandangnya sebagai bukti ilmiah yang mempertegas terjadinya perubahan musim kemarau di Indonesia akibat perubahan iklim. Dan, dia menambahkan, semua itu berkaitan erat dengan dinamika yang terjadi di Samudra Hindia bagian barat daya tropis yang mengalami perubahan signifikan selama satu dekade terakhir.
Bisakah Hal Ini Menyebabkan Banjir Besar di Jakarta?
Dengan prediksi dinamika pertumbuhan vorteks saat ini yang akan terus meluas dan menguat serta bergeser ke utara, Erma menyarankan agar pemerintah mengantisipasi banjir di musim kemarau di Jabodetabek. Kekhawatirannya itu diperkuat oleh hasil studi rekonstruksi tim peneliti di BRIN atas bencana banjir besar di Jakarta 2002.
Tim menemukan siklonik vorteks telah menyebabkan propagasi kuat hujan selama berhari-hari, 26 hingga 29 Januari, sebelum mengakibatkan banjir besar pada awal Februari. “Secara dampak, kerugian yang ditimbulkan dari banjir besar 2002 paling signifikan selama tiga dekade.”

SEBAGIAN wilayah di Jakarta kembali direndam banjir, kemarin. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta menyebutkan 10,74 persen dari seluruh rukun warga Ibu Kota terkena dampak musibah tersebut.
Erma menjelaskan, pembentukan vorteks selama ini tidak mengenal musim. Paling sedikit, ada dua faktor yang memicunya. Pertama, pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Hindia bagian barat daya tropis. Kedua, pembentukan sistem tekanan rendah di Laut Jawa.
Itulah sebabnya, kata Erma, tim peneliti BRIN mengembangkan Kamajaya, antara lain, untuk pengamatan dan prediksi dini terhadap aktivitas siklonik vorteks sejak prakondisi pembentukannya. Kamajaya adalah alat bantu berupa sistem prediksi yang adaptif dalam menangkap dinamika cuaca dan selalu diperbarui berkala secara otomatis.
Alat ini tidak hanya bermanfaat bagi petani tetapi juga sektor lain secara luas terutama aktivitas operasional yang sangat bergantung pada cuaca dan musim dan membutuhkan perencanaan jangka panjang.
Tinggalkan Balasan