Banjir di Jawa Timur Masih Mengancam, Warga Terus Beradaptasi
Puncak musim hujan yang terjadi pada bulan Januari mengakibatkan intensitas curah hujan tinggi. Hal ini menyebabkan sejumlah wilayah di Jawa Timur terendam banjir. Salah satu daerah yang terdampak adalah Kabupaten Lamongan. Selama sebulan terakhir, sebanyak 2.031 rumah terkena dampak banjir.
Banjir tersebut melanda enam kecamatan, yaitu Turi, Kalitengah, Lamongan, Karangbinangun, Deket, dan Glagah. Ketinggian air banjir berfluktuasi antara 10 hingga 59 sentimeter. Menurut Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, ketinggian air bisa turun menjadi 10 sentimeter jika tidak ada hujan. Namun, saat hujan deras terjadi, ketinggian air bisa melebihi angka tersebut.
Penyebab utama banjir di wilayah ini adalah luapan air dari Waduk Begawan Jero. Air yang tidak bisa dialirkan ke Sungai Begawan Solo menyebabkan aliran air berbalik ke Waduk Begawan Jero dan akhirnya meluber ke permukiman warga. Akibatnya, Pemkab Lamongan memperpanjang status tanggap darurat bencana hidrometeorolog hingga 26 Januari mendatang.
Meski situasi banjir masih mengancam, kondisi genangan air di kawasan Bengawan Jero terpantau stabil. Untuk mempercepat proses penurunan air, pihak BPBD melakukan beberapa langkah strategis. Dua unit pompa di Rumah Pompa Kalitengah terus beroperasi secara maksimal. Setiap mesin mampu menyedot air sebanyak 10 ribu liter per detik. Selain itu, pintu air juga dibuka lebar untuk membuang debit air ke saluran utama.
Selain upaya teknis, bantuan logistik seperti sembako dan kebutuhan dasar telah didistribusikan ke titik-titik terdampak. Pihak BPBD juga mendirikan pos kesehatan di area yang terkena banjir. Setiap hari, warga dapat melakukan pemeriksaan kesehatan di pos tersebut.
Banyak warga yang terkena banjir mengalami gatal-gatal pada kulit. Untuk mengatasi hal ini, sepatu boots anti air diberikan kepada warga. Dengan perlengkapan ini, warga tetap bisa menjalankan aktivitas meskipun air masih menggenangi lingkungan mereka.
Satriyo menjelaskan bahwa sebagian besar warga di dekat Begawan Jero bekerja sebagai petambak atau petani. Wilayah lima kecamatan di Kabupaten Lamongan sering terkena banjir pada musim hujan. Di Desa Laladan, Kecamatan Deket, permukiman warga sangat dekat dengan sungai. Sehingga, warga sudah terbiasa dengan banjir. Bahkan, banyak dari mereka memiliki perahu untuk digunakan saat banjir terjadi.
Namun, tahun ini banjir terasa lebih parah karena intensitas hujan jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Debit air yang mengalir cukup tinggi, sehingga memengaruhi kondisi warga.
Di wilayah lain seperti Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, dan Jombang, banjir mulai surut. Meski demikian, cuaca ekstrem masih diprediksi bisa terjadi. Oleh karena itu, pihak BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada karena kondisi cuaca masih fluktuatif.
Sebagai antisipasi, tim reaksi cepat terus disiagakan di titik-titik rawan banjir. Di wilayah Gresik, perahu karet juga disiapkan untuk mengantisipasi kiriman air susulan dari wilayah hulu. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dampak banjir dapat diminimalisir dan masyarakat dapat lebih siap menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.
Tinggalkan Balasan