BMKG: Cuaca Ekstrem di NTB 9–15 Januari 2026 Membahayakan

Peringatan Cuaca Ekstrem di NTB pada Januari 2026

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada periode 9 hingga 15 Januari 2026. Peringatan ini dikeluarkan setelah adanya indikasi gangguan dinamika atmosfer yang berpotensi memicu kondisi cuaca yang tidak biasa.

Beberapa faktor utama yang menyebabkan peningkatan curah hujan antara lain aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Kelvin di wilayah NTB. Selain itu, pertemuan dan perlambatan kecepatan angin, serta kelembapan udara yang tinggi di berbagai lapisan atmosfer juga turut berkontribusi. Kondisi labilitas atmosfer yang kuat juga mendukung proses konvektif skala lokal yang dapat memicu hujan lebat.

Wilayah yang paling berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat mencakup Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Bima, dan Kota Bima. Selain hujan lebat, BMKG juga memperingatkan adanya potensi gelombang tinggi di perairan sekitar NTB. Pada tanggal 9 hingga 11 Januari 2026, ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di beberapa perairan seperti Selat Lombok bagian utara dan selatan, Selat Alas bagian utara dan selatan, Selat Sape bagian selatan, serta perairan Samudera Hindia selatan NTB.

Kondisi ini sangat penting untuk diwaspadai oleh nelayan, pelaku pelayaran, dan masyarakat pesisir. BMKG menyarankan agar masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana tetap waspada dan siaga, terutama saat hujan lebat terjadi. Potensi dampak yang bisa terjadi antara lain banjir, banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, sambaran petir, hingga pohon tumbang.

Untuk meminimalkan risiko bencana, BMKG merekomendasikan beberapa langkah, termasuk memastikan kesiapan infrastruktur dan sistem pengelolaan sumber daya air. Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, pemotongan lereng dan penebangan pohon yang tidak terkontrol harus dihindari.

Pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh serta penguatan tiang atau tegakan juga disarankan untuk mencegah kerusakan akibat angin kencang. Masyarakat diimbau untuk menjauh dari lokasi kejadian bencana dan berada dalam radius aman. Peningkatan kewaspadaan melalui pemahaman informasi kebencanaan juga sangat penting.

Pemerintah daerah bersama pihak terkait diharapkan memperkuat sosialisasi, edukasi, dan literasi kebencanaan. Koordinasi dan komunikasi lintas sektor perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. BMKG juga menekankan pentingnya pemantauan informasi cuaca dan peringatan dini secara berkelanjutan hingga tingkat kecamatan di seluruh wilayah NTB.

Selain itu, sektor penerbangan perlu memperhatikan informasi meteorologi secara cermat demi keselamatan pesawat saat lepas landas dan mendarat. Dengan persiapan yang baik, masyarakat dan instansi terkait dapat lebih siap menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang mungkin terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *