Cuaca Ekstrem Rusak Rumah dan Tumbangkan Jalan di Ngada

Cuaca Ekstrem Mengganggu Wilayah Kabupaten Ngada

Cuaca ekstrem yang ditandai dengan angin kencang dan hujan lebat telah menghiasi wilayah Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama empat hari terakhir. Kondisi ini menyebabkan berbagai kerusakan di beberapa titik, termasuk pohon tumbang dan kerusakan pada bangunan.

Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngada, sejumlah peristiwa bencana terjadi. Salah satunya adalah pohon moke yang tumbang di Kelurahan Lebijaga. Peristiwa ini sempat menutup akses jalan di belakang Gereja Santo Yosep. Selain itu, di Kelurahan Susu, angin kencang menghilangkan atap rumah warga. Proses pendataan sedang dilakukan oleh petugas.

Di Desa Bowali, satu unit rumah warga tertimpa pohon tumbang. Tidak hanya pemukiman, fasilitas publik juga tidak terhindar dari dampak cuaca ekstrem ini. Atap seng Kantor BPBD Ngada dilaporkan tersapu angin. Di jalur lintas Mataloko–Bajawa, tepatnya di wilayah Bhetokeli, sejumlah bambu tumbang dan menghalangi badan jalan. Kejadian ini sempat mengganggu arus lalu lintas sebelum akhirnya dievakuasi.

Kepala BPBD Ngada melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Hermenegild Ruba, memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi. Ia meminta masyarakat untuk menghindari berteduh atau beraktivitas di bawah pohon besar serta menjauhi wilayah rawan longsor, terutama saat hujan lebat dan angin kencang.

BPBD Ngada terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pemerintah desa serta kelurahan guna penanganan lanjutan serta pendataan dampak kerusakan secara menyeluruh. Hingga berita ini diturunkan, cuaca di wilayah Bajawa, Kabupaten Ngada, masih gerimis disertai angin kencang yang terjadi sejak malam tadi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa sirkulasi siklonik sebelumnya terpantau berada di selatan Nusa Tenggara Barat dan telah berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S. Keberadaan sistem ini membentuk serta memperkuat daerah konvergensi dalam skala luas di wilayah selatan Indonesia, meliputi Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Meskipun Bibit Siklon Tropis 96S saat ini telah melemah dan dinyatakan punah, dinamika atmosfer kembali menunjukkan adanya pembentukan Bibit Siklon Tropis 97S di wilayah Laut Timor. Sistem baru ini kembali meningkatkan pola konvergensi dan mendukung peningkatan potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

BMKG menetapkan status awas terhadap kondisi cuaca di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 20-22 Januari 2026. Pada periode ini, BMKG memprakirakan hujan sangat lebat hingga ekstrem dan angin kencang melanda wilayah NTT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *