Cuaca Jabodetabek Hari Ini Belum Berubah

Cuaca Hujan Ringan Merata di Jabodetabek Hari Ini

Cuaca hujan ringan yang merata terjadi di seluruh wilayah Jabodetabek pada hari ini, Rabu 14 Januari 2026. Dari Jakarta hingga Tangerang dan Bekasi serta Bogor, juga Depok dan Tangerang Selatan, semua wilayah mengalami kondisi cuaca yang seragam berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Kondisi cuaca hari ini masih terkait dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Sejak Ahad lalu, hujan telah mendominasi wilayah Jabodetabek. Beberapa lokasi bahkan melaporkan curah hujan yang sangat lebat dan ekstrem. Akibatnya, banjir menyebar di banyak tempat dan ruas jalan, sehingga memengaruhi aktivitas masyarakat secara luas.

Prospek Cuaca Mingguan untuk Periode 13-19 Januari 2026

Dalam prospek cuaca mingguan untuk periode 13-19 Januari 2026, BMKG menyebutkan bahwa Jakarta termasuk daerah yang perlu waspada terhadap peningkatan hujan dengan intensitas sedang. Pembaruan informasi ini dilakukan oleh BMKG pada Senin, 12 Januari 2026.

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat. Pertama, penguatan Monsoon Asia disertai dengan peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut Cina Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa. Peningkatan kecepatan angin ini dikenal sebagai cold surge, yang membentuk dan menguatkan daerah konvergensi yang penting dalam memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.

“Khususnya di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara,” ujar Andri. Ia juga menyebut adanya daerah tekanan udara rendah di Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat yang turut memengaruhi pola sirkulasi angin regional. Sistem ini menyebabkan aliran angin di Indonesia bagian selatan menjadi lebih dominan ke arah timur, sehingga semakin memperkuat konvergensi dan perlambatan massa udara di wilayah selatan Indonesia.

“Kondisi tersebut mendukung proses naiknya udara secara lebih intensif dan berkelanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan potensi hujan lebat di sebagian besar pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara,” tambahnya.

Penjelasan dari Peneliti Iklim dan Atmosfer

Penjelasan Andri senada dengan penelitian dari Erma Yulihastin, peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer di Badan Riset dan Inovasi Nasional. Ia menggunakan istilah prakondisi vorteks untuk menggambarkan situasi yang sedang terjadi di selatan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Prakondisi vorteks ini dikatakan telah memicu konvergensi meluas sehingga menimbulkan hujan stratiform yang dihasilkan dari sistem hujan skala meso di atas laut Jawa ke Jabodetabek. Hujan stratiform terjadi karena konvergensi horizontal skala luas dan menyebabkan hujan secara kontinyu namun lambat.

“Hal ini diperparah dengan fenomena cold surge dan southerly surge yang konvergen di Jawa,” kata Erma menambahkan.

Fenomena Southerly Surge

Erma pernah menjelaskan southerly surge atau seruan angin dari selatan pada pertengahan Desember lalu. Saat itu, fenomena serupa telah menahan pergerakan bibit siklon tropis 93S, dari seharusnya ke barat-selatan menjauhi wilayah Indonesia ke arah Australia menjadi berbelok kembali ke timur. Dampaknya, hujan intensitas tinggi dan banjir terjadi di Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *