Dampak cuaca ekstrem, pasokan ikan Semarang menurun dan harga melonjak

Cuaca Ekstrem Berdampak pada Pasokan dan Harga Ikan di Jawa Tengah

Cuaca buruk yang melanda berbagai wilayah di Provinsi Jawa Tengah menyebabkan penurunan signifikan dalam jumlah tangkapan ikan laut. Dampaknya, pasokan ikan di pasar menjadi terbatas, sehingga harga ikan meningkat tajam. Hal ini memengaruhi para pedagang dan nelayan setempat.

Salah satu pedagang di Pasar Rejomulyo, Alam, mengungkapkan bahwa pasokan ikan saat ini tidak lancar akibat kondisi cuaca ekstrem. Menurutnya, pengurangan pasokan mencapai sekitar 40-50% dibandingkan keadaan normal. “Pasokannya gak lancar dan berkurang banget. Kalau dihitung bisa sekitar 40%-50%,” ujarnya.

Alam juga menjelaskan bahwa perubahan pasokan langsung berdampak pada harga jual ikan. “Ngaruh banget ke harga. Kalau pasokannya lagi berkurang, harganya bisa naik sampai 30%. Kalo jenis ikan yang paling kurang itu ikan laut seperti kembung, tongkol, selar dan lain-lain itu semuanya kena,” tambahnya.

Pernyataan Alam sejalan dengan informasi dari pedagang ikan lainnya, Ilham. Ia menyebutkan bahwa pasokan ikan di lapaknya turun hingga 50% akibat cuaca buruk dan banjir di daerah pemasok. “Pasokannya berkurang banyak, kalo dihitung itu sampai 50% bahkan lebih. Yang paling terasa di lapak saya itu pasokan cumi dan ikan–ikan laut,” jelas Ilham.

Ilham menambahkan bahwa penurunan pasokan ikan juga membuat harga jual melonjak. “Kalau cumi itu harga normal biasanya sekitar Rp50.000 per kg, sekarang bisa sampai Rp70.000-80.000 per kg. Buat yang ikan itu biasanya dijual Rp20.000 sekarang bisa Rp28.000,” tuturnya.

Di sisi lain, Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jawa Tengah, Slamet Ari Nugroho, menjelaskan bahwa cuaca buruk berdampak luas terhadap produktivitas nelayan tradisional. “Hampir semua daerah terdampak karena ini angin barat ya. Jadi wilayah utara Jawa Tengah hampir semuanya kena dan produktivitas nelayan menurun,” ujarnya.

Slamet menambahkan bahwa sebagian besar nelayan terpaksa mengurangi atau bahkan menghentikan aktivitas melaut karena kondisi laut yang tidak aman. “Kebanyakan nelayan itu melaut harian, kalau cuaca sedang buruk mereka langsung pulang dan tidak mendapatkan hasil tangkapan. Tapi untuk kapal-kapal yang beroperasi di bawah satu mil, mereka tetap akan melaut tapi mengambil tangkapan kerang dara, kerang hijau, dan sebagainya. Sementara itu, untuk sekarang ada juga nelayan yang sudah hampir dua minggu terakhir tidak melaut,” tambahnya.

Selain pedagang, nelayan tradisional juga mengalami penurunan pendapatan yang signifikan. Slamet menyebutkan bahwa meskipun pendapatan menurun, biaya operasional tetap harus dikeluarkan. “Nelayan tangkap ini pendapatan atau produktivitas penangkapan mereka berkurang, tapi biaya mereka tetap bertambah untuk pengeluaran bahan bakar. Kalau pendapat nelayan saat ini bisa sampai 70% ya, dan kalau kerugian tuh bisa sangat besar karena yang mereka dapat bukan ikan melainkan sampah,” jelasnya.

Cuaca ekstrem tidak hanya melanda Jawa Tengah, tetapi juga terus berlangsung di hampir seluruh wilayah Indonesia. Akibatnya, keberlangsungan hidup nelayan kecil semakin terancam. KNTI mencatat bahwa sebanyak 95% nelayan di lebih dari 350 desa pesisir terdampak oleh cuaca buruk. Selain itu, 63% persen nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut sementara akibat tingginya risiko keselamatan di laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *