Kepler Rayakan Ulang Tahun ke 7 Seniman Jalanan, Pemkot Dikritik Tidak Berpihak

Seniman Jalanan, Kehadiran yang Diabaikan Tapi Kontribusi yang Tak Terhitung

Seniman jalanan sering kali dianggap sebagai bagian dari masyarakat pinggiran yang tidak memiliki kontribusi signifikan terhadap perkembangan kota. Namun, fakta ini justru bertentangan dengan kenyataan bahwa keberadaan mereka memberikan hiburan dan kebahagiaan bagi banyak orang. Meskipun begitu, mereka seringkali tidak mendapatkan perhatian yang layak, termasuk dari pihak pemerintah.

Pada perayaan ulang tahun ke-7 Seniman Jalanan Tasikmalaya (Senjata), acara tersebut diadakan untuk merayakan seni dan budaya yang dimiliki oleh para seniman jalanan. Sayangnya, kehadiran pejabat daerah seperti Wali Kota dan Wakil Wali Kota tidak terlihat. Hanya satu pejabat, yaitu Anggota DPRD Kepler Sianturi, yang hadir dalam acara yang digelar di halaman Gedung Creative Center (GCC) Dadaha Kota Tasikmalaya.

Menurut Muhammad Rizal Alfarizi, Wakil Ketua Pelaksana Anniversary Senjata, kekecewaan yang dirasakan oleh para seniman adalah karena mereka merasa diabaikan. “Kami hanya anak jalanan yang mungkin notabenya tidak terlalu penting dan tidak berpengaruh untuk Kota Tasikmalaya,” ujarnya.

Namun, acara ini bukan hanya sekadar untuk mengangkat sisi positif seniman jalanan. Tujuan utamanya adalah melestarikan seni dan budaya. Dalam acara tersebut, ada beberapa seniman yang menampilkan bakat mereka, seperti seniman lukis, sastrawan, pelaku pertunjukan, serta budayawan. Acara ini diberi tema Nata Seni dan Budaya, dengan harapan dapat mengumpulkan para pelaku seni dan budaya untuk terus meningkatkan kesenian dan kebudayaan di Kota Tasikmalaya.

Respon dari Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Dapil 1 Kecamatan Cihideung, Tawang, dan Bungursari, Kepler Sianturi, menunjukkan rasa prihatin terhadap pengabaian yang dialami oleh seniman jalanan. “Kasihan pemkot atau dinas gak ada yang datang, mungkin karena mereka orang pinggiran, termarjinalkan. Pemkot seharusnya perlu ada keperpihakan pada mereka,” katanya.

Kepler juga menekankan bahwa jangan remehkan seniman jalanan. Banyak seniman ternama Indonesia yang memulai karier mereka dari jalanan. Berikut beberapa contohnya:

  • Iwan Fals – Legenda musik Indonesia yang dikenal karena lagu-lagunya yang kritis terhadap sosial dan politik. Iwan Fals memulai perjalanan musiknya dengan mengamen di jalanan dan di berbagai acara kecil.
  • Didi Kempot – Maestro campursari yang dikenal sebagai “The Godfather of Broken Heart”. Ia memulai karier sebagai pengamen di Solo dan Jakarta.
  • Charly Van Houten – Vokalis dari Setia Band yang pernah merasakan kerasnya hidup di jalanan sebagai pengamen sebelum bandnya meraih popularitas.
  • Rian D’Masiv – Vokalis dari grup band D’Masiv yang memiliki latar belakang sebagai musisi jalanan sebelum sukses bersama bandnya.
  • Via Vallen – Penyanyi dangdut koplo terkenal yang mengawali kariernya dengan bernyanyi dari panggung ke panggung kecil dan di jalanan.
  • Devi Dja – Artis Indonesia pertama yang berhasil menembus Hollywood, yang juga mengawali kariernya sebagai pengamen jalanan.

Di bidang seni rupa, ada juga seniman jalanan yang karyanya diapresiasi dan dipamerkan secara internasional. Contohnya adalah Darbotz, yang dikenal dengan karakter khas hitam putihnya dan telah berkolaborasi dengan berbagai merek serta mengadakan pameran di luar negeri.

Fenomena ini menunjukkan bahwa jalanan sering kali menjadi tempat pelatihan yang efektif dan batu loncatan bagi para seniman berbakat di Indonesia untuk meraih ketenaran. Mereka tidak hanya menyumbangkan seni dan budaya, tetapi juga memberikan warna-warna baru dalam dunia seni dan hiburan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *