Keramaian Transaksi, Keheningan Fenomena Rojali–Rohana Muncul Kembali

Fenomena Rojali dan Rohana di Pusat Perbelanjaan

Pusat perbelanjaan di Indonesia kembali menjadi sorotan akibat munculnya fenomena yang dikenal dengan istilah “Rojali” dan “Rohana”. Rojali merujuk pada rombongan yang jarang membeli, sedangkan Rohana menggambarkan kelompok yang hanya bertanya tanpa melakukan pembelian. Fenomena ini semakin terlihat seiring meningkatnya jumlah pengunjung pusat perbelanjaan, namun tidak diikuti oleh peningkatan transaksi belanja yang signifikan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah hal baru dalam dunia ritel modern. Ia menjelaskan bahwa keberadaan Rojali dan Rohana sudah ada sejak lama, tetapi kini semakin terlihat karena fungsi mal telah berubah. Tidak lagi sekadar tempat untuk berbelanja, mall kini juga menjadi pusat koneksi sosial.

Menurut Alphonzus, pergeseran fungsi ini menyebabkan intensitas Rojali–Rohana bisa naik dan turun sesuai kondisi ekonomi. Meski daya beli masyarakat kelas menengah bawah masih berpengaruh, bagi kelas menengah atas, faktor makroekonomi dan global lebih dominan dalam menentukan perilaku konsumen.

Meskipun demikian, Alphonzus tetap optimis tentang prospek bisnis pusat perbelanjaan di Indonesia. Ia menilai bahwa pembangunan 13 mall baru di Jabodetabek masih wajar, meskipun tren konsumsi melambat. Menurutnya, rasio luasan pusat perbelanjaan dibanding jumlah populasi di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand.

Selain itu, Alphonzus menyatakan bahwa tren penjualan ritel di Indonesia bersifat musiman, dengan puncaknya pada periode Ramadan dan Lebaran. Oleh karena itu, penurunan transaksi di luar musim puncak masih tergolong wajar.

Untuk menjaga daya tarik pengunjung, pusat perbelanjaan terus bertransformasi menjadi pusat koneksi sosial. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan meningkatkan porsi penyewa makanan dan minuman (F&B). Dulu komposisi F&B hanya berkisar antara 10-20%, kini sudah meningkat menjadi 30-40%. Namun, ia menekankan pentingnya keseimbangan agar mall tidak berubah menjadi sekadar deretan restoran.

APPBI sendiri tidak secara spesifik menghitung dampak Rojali–Rohana terhadap penurunan transaksi. Alphonzus menegaskan bahwa fenomena ini akan selalu ada karena mall kini telah berubah fungsi. Baik di kalangan menengah bawah maupun menengah atas, Rojali dan Rohana tetap ada, hanya intensitasnya berbeda sesuai situasi ekonomi.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin, menilai perilaku konsumen yang hanya melihat-lihat sering dipicu oleh perbandingan harga dengan platform daring. Ia mengatakan, orang yang jalan-jalan biasanya melihat harga dan merasa lebih murah di online. Hal ini merupakan hal yang tidak bisa dikendalikan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan pandangan serupa. Ia menyebut maraknya fenomena Rojali–Rohana sebagai bagian dari transformasi pola belanja masyarakat, dari toko fisik ke platform online. Ia menilai, saat ini antara offline dan online sedang dalam masa transisi, dengan sebagian besar konsumen mulai beralih ke belanja online.

Budi menekankan bahwa perubahan perilaku ini memang menekan penjualan di toko fisik, namun sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan model hybrid omnichannel. Ia menilai, fenomena hanya lihat-lihat atau Rojali itu wajar, karena konsumen memiliki hak untuk membandingkan dan memilih, apakah ingin belanja langsung di toko atau melalui platform digital.

Ia juga menyinggung peran live shopping yang kini marak digunakan di marketplace. Menurutnya, pendekatan visual dan interaktif ini menjadi solusi untuk mengurangi keraguan konsumen terhadap produk. Ia menambahkan bahwa dengan live shopping, konsumen bisa lebih percaya dan akhirnya mau beli.

Budi menilai situasi ini mirip dengan masa awal kehadiran ritel modern yang sempat meminggirkan toko kelontong. Namun lewat pola kemitraan dan pelatihan, toko kelontong mampu bertahan. Hal serupa dinilai bisa diterapkan di era digital saat ini.

Ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mendorong UMKM masuk ke ekosistem digital, terutama yang berada di desa-desa. Ia menilai produk lokal memiliki potensi besar untuk bersaing, baik di pasar domestik maupun ekspor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *