Korea Selatan Berhenti Bertahap Bangun 40 PLTU Hingga 2040

Korea Selatan Resmi Bergabung dengan Powering Past Coal Alliance

Di tengah penyelenggaraan KTT Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belém, Brasil, Korea Selatan secara resmi menyatakan keterlibatannya dalam Powering Past Coal Alliance (PPCA). Aliansi ini bertujuan untuk mempercepat transisi dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara menuju sumber energi bersih yang lebih ramah lingkungan. Keputusan ini menunjukkan komitmen negara tersebut terhadap aksi iklim yang lebih berkelanjutan.

Komitmen Korea Selatan akan membawa dampak signifikan terhadap pengurangan emisi karbon. Negara ini akan menghentikan operasional sebanyak 41,2 gigawatt (GW) kapasitas PLTU batu bara, yang selama ini menyumbang sekitar 60% emisi sektor ketenagalistrikan. Angka ini setara dengan 156 MtCO2e. Dengan langkah ini, Korea Selatan berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 53 hingga 61% dari tingkat emisi tahun 2018 pada tahun 2035.

Salah satu fokus utama adalah meningkatkan porsi energi surya dan angin menjadi 21,6% pada 2030. Korea Selatan juga berkomitmen untuk menghentikan operasional 40 dari 62 unit PLTU pada 2040. Sementara itu, 22 unit sisanya akan ditentukan melalui diskusi ekonomi dan publik, dengan rencana baru yang akan diumumkan pada 2026.

Menteri Lingkungan Hidup Korea Selatan, Kim Sung-whan, menyampaikan bahwa partisipasi negara dalam PPCA merupakan wujud nyata dari upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Ia menekankan bahwa melalui aliansi ini, Korea Selatan akan mempercepat proses transisi energi yang adil dan bersih. “Dengan bergabung dengan PPCA, kami menunjukkan komitmen Korea Selatan untuk mempercepat transisi energi yang adil dan bersih. Melalui Aliansi ini, kami akan memulai penghapusan batu bara, serta membantu Aliansi memajukan transisi batu bara di seluruh dunia,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Saat ini, Korea Selatan memiliki armada pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar ke-7 di dunia. Meskipun porsi pembangkit listrik tenaga batu bara telah turun dari 42,5% pada 2015 menjadi 30,5% pada 2024, masih menjadi sumber emisi yang signifikan. Beberapa unit pembangkit listrik tenaga batu bara baru mulai beroperasi dalam beberapa tahun terakhir, sehingga penting bagi negara untuk segera mengambil tindakan.

PPCA akan memberikan kerangka kerja untuk pertukaran kebijakan, dukungan teknis, dan kerja sama antar pemerintah, otoritas lokal, dan pelaku bisnis yang berkomitmen pada penghapusan bertahap pembangkit listrik tenaga batu bara. Perubahan ini tidak hanya penting bagi iklim, tetapi juga akan membantu Korea Selatan meningkatkan ketahanan energi, daya saing bisnis, serta menciptakan ribuan lapangan kerja di industri masa depan.

Langkah ini menunjukkan bahwa Korea Selatan siap menjadi bagian dari solusi global terhadap perubahan iklim. Dengan kolaborasi internasional dan komitmen kuat, negara ini dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam mengadopsi energi bersih dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *