Peluncuran Logo City Branding Kota Bandung
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meluncurkan logo city branding yang bertujuan untuk memperkuat citra Kota Bandung sebagai kota tujuan wisata unggulan berbasis budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif di tingkat nasional. Menurutnya, city branding bukan sekadar soal selera kepala daerah, tetapi lebih mengacu pada karakter kota yang tidak pernah berubah. “Inilah upaya kita menampilkan jati diri Bandung secara konsisten dan berkelanjutan,” ujar Farhan dalam pernyataannya.
Logo city branding terbaru ini dirancang untuk menjawab tantangan era digital sekaligus memperkuat posisi Bandung sebagai kota tujuan wisata utama. “City branding ini bukan sekadar logo, tetapi sistem yang menghubungkan identitas kota dengan pengalaman digital,” tambahnya.
Menurut Farhan, city branding ini merupakan hasil pendalaman dari berbagai branding sebelumnya, seperti Wonderful Indonesia, Stunning Bandung, hingga konsep terbaru yang menampilkan karakter multiperan dan keindahan Kota Bandung.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menjelaskan bahwa city branding baru ini dirancang untuk memperkuat identitas Kota Bandung sekaligus melengkapi kebijakan digital branding, khususnya dalam promosi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.
Berdasarkan hasil kajian citra pariwisata 2025, Kota Bandung memperoleh skor 4,33 dari skala 5 dalam aspek pengenalan destinasi, rekomendasi, serta keterhubungan emosional wisatawan. Pencapaian itu, menurut Adi, menjadi dasar penting perlunya city branding baru bagi para wisatawan.
Tanggapan Akademisi terhadap Logo City Branding
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad), Teddy Kurnia, menilai ide logo yang dibalut teknologi digital itu menarik. “Gambar logonya bisa di-scan (pindai) dan terhubung ke situs Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” katanya. Namun, setelah mencoba memindai logo baru itu, Teddy mengaku kecewa karena isi informasinya tidak sesuai harapan, yaitu penjelasan yang mengenalkan sejumlah makanan di Bandung.
Bayangannya, dia bisa mendapatkan informasi lokasi kuliner yang tersebar di Bandung, atau di mana saja pertunjukan seni dan budaya serta harga tiketnya. “Menurut saya informasi yang ada terlalu umum, juga ada informasi posyandu, pemadam kebakaran,” kata dia.
Menurut Teddy, sebaiknya informasinya lebih spesifik, misalnya untuk tujuan wisata dan sesuai dengan kondisi terkini serta menjadi pengalaman bagi wisatawan. Dia menyarankan dinas terkait untuk berkolaborasi juga dengan pihak lain agar informasinya sesuai dengan kebutuhan pengakses.
Perspektif Seniman tentang Logo City Branding
Sementara itu, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB), Agung Eko Budiwaspada, mengatakan logo kota penting sebagai penanda. Logo bisa menjadi jalan pintas visual agar semua cerita, program, dan wajah kota terlihat rapi dan konsisten. “Logo city branding itu bukan soal cantik atau jelek, tapi nyambung apa nggak sama realitas dan cerita kotanya,” katanya.
Dalam konteks kota sebagai tujuan wisata yang berbasis budaya dan ekonomi kreatif, menurut Agung, logo bisa memperkuat citra itu asalkan sesuai dengan cerita budaya yang hidup, sejalan dengan pengalaman wisata yang nyata, serta konsisten dipakai di semua aktivitas kota, ruang publik, juga media sosial. “Intinya logo di sini fungsinya bukan bikin orang jatuh cinta, tapi bikin orang ingat dan percaya,” katanya.
Tinggalkan Balasan