Masalah Sisa Pangan di Sekolah dan Upaya Penanggulangan
Masih banyak sekolah yang belum menerapkan sistem pengelolaan sisa pangan secara efektif dan efisien. Hal ini menyebabkan siswa sering meninggalkan sisa makanan yang kemudian menjadi sampah di lingkungan sekolah. Temuan ini didapatkan melalui survei yang dilakukan oleh Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (Seameo Biotrop) pada Juli-Agustus 2025, yang melibatkan sebanyak 131 sekolah di 11 provinsi.
Survei tersebut menunjukkan bahwa sisa pangan berasal dari berbagai sumber, baik dalam maupun luar lingkungan sekolah. Sebanyak 75,6% responden mengungkapkan bahwa sisa makanan dan kemasan makanan adalah sumber utama sisa pangan di kantin sekolah. Sementara itu, 48,1% responden menyatakan bahwa sampah berasal dari siswa yang membawa makan siang dari rumah.
Deputi Direktur Seameo Biotrop, Doni Yusri, menjelaskan bahwa temuan ini mengungkapkan adanya isu kritis terkait kesadaran rendah akan pentingnya pengelolaan sisa pangan, kurangnya pemilahan sampah, serta tidak adanya fasilitas yang memadai untuk pengelolaan sisa pangan yang tepat.
“Penting untuk mengatasi masalah ini agar jumlah sisa pangan dapat berkurang secara signifikan dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih berkelanjutan,” ujarnya saat menyampaikan hasil studi tersebut di Kemendikdasmen.
Menurut Doni, sisa pangan sering dibuang bersama dengan sampah umum tanpa adanya pengelolaan khusus. Meski beberapa sekolah telah melakukan inisiatif sederhana seperti membuat kompos, memproduksi pupuk cair, atau mendonasikan sisa makanan yang masih layak untuk pakan ternak, upaya ini masih terbatas.
Data dari World Wildlife Fund (WWF) menunjukkan bahwa pengelolaan sisa pangan secara efektif dapat mengurangi emisi gas rumah kaca global dari sistem pangan hingga 11%. Sementara itu, studi dari Economist Intelligence Unit pada tahun 2017 mengungkapkan bahwa Indonesia menghasilkan hampir 300 kilogram sisa pangan per orang per tahun.
Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan bahwa pada tahun 2018, sisa pangan menyumbang 41,05% dari total sampah Indonesia. Badan Pusat Statistik juga melaporkan bahwa 8,49% populasi menghadapi kerawanan pangan pada tahun 2021, meningkat 8,34% dari tahun sebelumnya.
Program Makan Bergizi Gratis dan Tantangan yang Dihadapi
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang rentan menyisakan makanan. Ia mengatakan, setelah berkunjung ke beberapa sekolah dengan program MBG, ia menemukan bahwa mayoritas sayuran tidak dimakan oleh siswa.
“Saya tanya kenapa? Jawabannya biasanya karena tidak enak. Ini menjadi tantangan besar,” katanya.
Untuk mengatasi masalah ini, Kemendikdasmen berupaya memberikan penguatan pendidikan karakter dalam program MBG. Salah satu fokusnya adalah etika makan yang baik, termasuk menghindari pemborosan makanan.
Rekomendasi untuk Perbaikan Pengelolaan Sisa Pangan
Atip juga memberikan beberapa rekomendasi terhadap kajian Seameo Biotrop. Pertama, Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota perlu memperkuat integrasi program Seameo Biotrop dalam perencanaan pendidikan daerah, khususnya dalam program sekolah sehat dan literasi sains.
Kedua, mendorong kepala sekolah untuk menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang eksperimen belajar, melalui kebun sekolah, konservasi biodiversitas, pengelolaan sampah, atau kegiatan berbasis proyek lainnya.
Ketiga, guru-guru diharapkan memanfaatkan konsep AEET (Agro, Eco, Edu, Tourism) yang dikembangkan Seameo Biotrop. Konsep ini menggabungkan pertanian berkelanjutan, ekologi tropis, dan pembelajaran langsung.
Keempat, menggunakan program Biotrop untuk memperkuat implementasi pendidikan pada tahun 2026. Kelima, mendorong kemitraan antara sekolah, pemerintah daerah, dan Seameo Biotrop.
Terakhir, Atip meminta agar evolusi program dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa seluruh inisiatif Seameo Biotrop benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran.
Tinggalkan Balasan