Kasus Pelecehan di Tempat Kerja yang Menimpa Mantan CEO ADOR
Kontroversi yang melibatkan mantan CEO ADOR, Min Hee-jin, kembali menjadi sorotan publik. Pengadilan Korea Selatan baru-baru ini mengumumkan bahwa Min Hee-jin terbukti melakukan pelecehan di tempat kerja terhadap salah satu mantan karyawan. Keputusan ini memperkuat denda yang sebelumnya diberikan oleh otoritas ketenagakerjaan dan menegaskan bahwa tindakan Min Hee-jin melanggar hukum ketenagakerjaan.
Pada 16 Oktober, Hakim Jeong Cheol-min dari Pengadilan Distrik Barat Seoul secara resmi menolak gugatan yang diajukan oleh Min Hee-jin untuk membatalkan denda administratif yang diberikan oleh Kantor Ketenagakerjaan dan Tenaga Kerja Seoul. Dalam kasus ini, seorang mantan karyawan, yang diidentifikasi sebagai “A”, mengaku mengalami tekanan mental akibat ucapan dan perilaku verbal Min Hee-jin saat bekerja di bawah kepemimpinannya.
Hasil penyelidikan oleh otoritas tenaga kerja menunjukkan bahwa beberapa pernyataan Min Hee-jin dinilai merendahkan dan berpotensi menyebabkan stres fisik serta psikologis bagi korban. Tindakan tersebut juga dianggap menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat dan penuh tekanan. Berdasarkan temuan ini, pihak pemerintah menjatuhkan sanksi berupa denda administratif terhadap Min Hee-jin, dengan alasan bahwa perilakunya termasuk dalam kategori pelecehan di tempat kerja sesuai undang-undang ketenagakerjaan Korea Selatan.
Tidak puas dengan keputusan tersebut, pihak Min Hee-jin mengajukan gugatan hukum, dengan dalih bahwa otoritas tenaga kerja telah salah menafsirkan definisi hukum dari “pelecehan di tempat kerja.” Tim hukumnya berargumen bahwa tindakan Min Hee-jin tidak memenuhi unsur pelanggaran yang dimaksud dalam undang-undang. Namun, setelah melalui proses pemeriksaan, pengadilan tetap menyatakan keputusan otoritas tenaga kerja sah dan menolak seluruh keberatan yang diajukan pihak Min Hee-jin.
Kasus ini semakin memperpanjang daftar persoalan hukum yang dihadapi oleh mantan eksekutif kreatif HYBE tersebut. Selain vonis dari pengadilan ketenagakerjaan, Min Hee-jin juga tengah terlibat dalam dua gugatan besar yang diajukan oleh agensi di bawah naungan HYBE, yaitu Source Music dan Belift Lab.
Source Music, agensi yang menaungi grup LE SSERAFIM, menggugat Min sebesar 500 juta KRW atau sekitar Rp 5,8 miliar (dengan kurs Rp 11,66 per KRW), sedangkan Belift Lab, agensi di balik proyek survival I-LAND, menuntut ganti rugi hingga 2 miliar KRW atau sekitar Rp 23,3 miliar. Kedua gugatan tersebut muncul setelah Min Hee-jin menggelar konferensi pers pada April tahun lalu, di mana ia menuduh HYBE melanggar janji untuk mendebutkan NewJeans sebelum LE SSERAFIM. Ia juga menyebut bahwa konsep I-LAND meniru konsep yang awalnya dirancang untuk NewJeans.
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh kedua agensi sebagai klaim yang tidak berdasar dan merugikan reputasi mereka. Saat ini, posisi Min Hee-jin di industri hiburan Korea semakin goyah. Sosok yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu kreator paling berpengaruh di balik kesuksesan grup NewJeans ini tengah menghadapi tekanan besar dari berbagai arah.
Selain harus menanggung denda akibat kasus pelecehan di tempat kerja, ia juga dihadapkan pada proses hukum panjang dan kompleks dengan dua agensi besar di bawah HYBE. Keputusan pengadilan terbaru ini menandai babak baru dalam perjalanan hukum Min Hee-jin yang telah menarik perhatian publik sejak awal tahun.
Tinggalkan Balasan