Inflasi di Jawa Tengah Pada Desember 2025
Inflasi di Jawa Tengah pada bulan Desember 2025 tercatat sebesar 0,50% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,72% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan peningkatan dari bulan sebelumnya yang lebih rendah. Beberapa faktor memicu kenaikan inflasi tersebut, termasuk fluktuasi harga komoditas pangan dan perubahan harga emas serta bahan bakar minyak.
Komoditas Pangan Menjadi Penyumbang Utama
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK). Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga komoditas seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah. Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta kondisi cuaca ekstrem di akhir tahun.
Plh. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari Hufaid, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem pada bulan Desember menyebabkan penurunan produksi komoditas hortikultura, terutama cabai rawit dan bawang merah. Hal ini berdampak langsung pada kenaikan harga di pasar.
Pengaruh Harga Emas
Selain komoditas pangan, kenaikan harga emas juga turut berkontribusi terhadap inflasi. Di kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya, kenaikan harga emas memberikan andil sebesar 0,07% secara bulanan (mtm).
Reina menjelaskan bahwa selama tahun 2025, komoditas emas selalu menjadi penyumbang kenaikan inflasi, kecuali pada bulan Mei 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi emas perhiasan mencapai 62,35% (yoy) atau dua kali lipat dibandingkan tahun 2024 yang hanya 30,25% (yoy).
Dampak BBM Terhadap Transportasi
Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Turbo turut mengerek kenaikan harga pada kelompok pengeluaran transportasi. Kenaikan harga BBM memberikan andil sebesar 0,02% (mtm) terhadap inflasi. Namun, peningkatan lebih lanjut pada kelompok pengeluaran ini tertahan oleh penurunan tarif angkutan udara sebesar 0,02% (mtm) seiring pemberian tiket domestik kelas ekonomi pada momen Nataru.
Upaya Bersama untuk Mengendalikan Inflasi
Reina menyampaikan bahwa Bank Indonesia bersama pemangku kepentingan yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah akan bekerja sama untuk menjaga inflasi agar sesuai dengan rentang sasaran. Program pengendalian inflasi ditujukan untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang atau komoditas di Jawa Tengah, sehingga inflasi dapat terjaga di rentang sasaran 2,5±1%.
Dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan lembaga terkait, diharapkan inflasi di Jawa Tengah tetap stabil dan tidak mengganggu kesejahteraan masyarakat. Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat.
Tinggalkan Balasan