Pemerintah: Pemangkasan Produksi Nikel Tidak Pengaruhi Industri EV

Pengurangan Produksi Nikel Indonesia Tidak Berdampak Signifikan pada Industri Baterai Kendaraan Listrik

Pengurangan produksi nikel di Indonesia tidak dianggap akan memberikan dampak besar terhadap industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sebagian besar nikel yang diekspor dan diproduksi di dalam negeri digunakan untuk kebutuhan industri baja tahan karat, bukan sebagai bahan utama dalam baterai.

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Rachmat Kaimuddin, menjelaskan bahwa kontribusi nikel terhadap industri baterai kendaraan listrik relatif kecil dibandingkan dengan sektor lainnya. Ia menyatakan bahwa sebagian besar nikel Indonesia digunakan dalam produksi logam besi, bukan baterai.

“Tidak ada pengaruhnya. Nikel di Indonesia itu tidak semuanya dibuat baterai. Banyaknya dibuat besi. Jadi kecil persentase buat baterainya,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Nickel Institute, sekitar 65% penggunaan nikel global dialokasikan untuk produksi stainless steel. Sementara itu, hanya sekitar 18% yang digunakan untuk baterai. Sisanya digunakan dalam berbagai aplikasi industri lainnya seperti campuran logam dan kebutuhan teknologi khusus.

Perubahan Teknologi Baterai Kendaraan Listrik

Selain itu, tren teknologi baterai kendaraan listrik saat ini menunjukkan bahwa tidak semua baterai EV menggunakan nikel sebagai bahan utama. Saat ini, baterai lithium iron phosphate (LFP) menjadi dominan dalam pasar kendaraan listrik. Baterai jenis ini tidak membutuhkan nikel, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasokan nikel.

Rachmat menjelaskan bahwa baterai LFP lebih banyak digunakan karena harganya yang lebih terjangkau dan cocok untuk kondisi iklim Indonesia yang tidak memiliki salju. Meskipun baterai nikel memiliki kapasitas yang lebih besar dan tahan terhadap suhu dingin, harga yang lebih mahal membuatnya kurang diminati di pasar lokal.

Menurut data International Energy Agency, pangsa baterai LFP meningkat secara signifikan. Pada 2022, pangsa baterai LFP mencapai 37%, dan naik menjadi 50% pada 2024. Di Cina, pasar EV terbesar dunia, pangsa baterai LFP bahkan mencapai sekitar 75% pada 2024. Sementara itu, baterai berbasis nikel masih mendominasi di Eropa dan Amerika Serikat, terutama untuk kendaraan premium yang membutuhkan jarak tempuh lebih jauh.

Keterkaitan NIKEL dengan Industri EV

Meski ada hubungan antara nikel dan baterai, Rachmat menekankan bahwa dampaknya tidak sebesar yang diperkirakan. “Ada hubungannya baterai dengan nikel, tapi tidak signifikan. Nikel yang jadi baterai itu sedikit kok,” katanya.

Indonesia saat ini merupakan produsen nikel terbesar di dunia, dengan kontribusi sekitar 50% dari total produksi global. Dari sisi cadangan, Indonesia juga memiliki sekitar 55 juta metrik ton nikel atau sekitar 52% dari total cadangan dunia, berdasarkan data Kementerian ESDM yang merujuk pada USGS 2024. Cadangan tersebut melampaui Australia dan jauh lebih besar dari negara-negara lain seperti Brasil dan Rusia.

Namun, serapan nikel untuk industri kendaraan listrik masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa industri otomotif nasional masih relatif kecil dibandingkan skala produksi nikel nasional. “Produksi mobil Indonesia itu cuma 2% dari dunia. Jadi nikel Indonesia itu lebih banyak diekspor,” ujar Rachmat.

Fokus pada Pasar Ekspor dan Keberlanjutan

Dengan kondisi tersebut, sebagian besar produksi nikel Indonesia tetap akan diarahkan ke pasar ekspor, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri baja tahan karat dan manufaktur global. Rachmat menekankan bahwa yang lebih penting saat ini adalah memastikan keberlanjutan penyerapan produksi nikel Indonesia di pasar global.

“Yang perlu kita pastikan nikel kita bisa diserap. Karena memang sebagian besar akan tetap diekspor,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *