Penelitian CENAGO ITB: Cuaca Ekstrem Penyebab Utama Banjir Sumatera 2025

Analisis CENAGO ITB: Banjir Sumatera Akhir 2025 Dipengaruhi Siklon Tropis Senyar

Pusat Analisis dan Penerapan Informasi Geospasial (CENAGO) Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan studi mendalam terkait banjir yang terjadi di Sumatera pada akhir 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama banjir tersebut adalah curah hujan dengan intensitas sangat ekstrem akibat adanya Siklon Tropis Senyar. Kondisi ini menyebabkan sistem pengendalian banjir yang ada tidak mampu menangani skala bencana tersebut.

Penelitian ini dilakukan melalui berbagai metode analisis, termasuk kajian forensik berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai (DAS), yaitu DAS Badiri, Garoga, dan Batang Toru, serta perubahan tutupan lahan. Selain itu, dilakukan simulasi hidrologi-hidrolika untuk memperkuat hasil analisis.

Peran Perubahan Tutupan Lahan

Meskipun beberapa perusahaan seperti PT NSHE, PT AGR, dan PT TBS dituduh sebagai pihak yang bertanggung jawab atas perubahan tutupan lahan, hasil analisis menunjukkan bahwa kontribusi mereka relatif kecil. Koordinator Tim Riset CENAGO ITB, Heri Andreas menjelaskan bahwa alih fungsi lahan dari ketiga perusahaan tersebut hanya sekitar 1,6 persen untuk PT AR, 0,4 persen untuk PT TBS, dan 0,02 persen untuk PT NSHE.

Heri menegaskan bahwa jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas.

Pendekatan Ilmiah dalam Penelitian

Dalam penelitian ini, CENAGO ITB menggunakan digitasi citra satelit untuk mengklasifikasikan tutupan lahan. Data presipitasi BMKG dan NOAA Amerika Serikat digunakan bersama dengan pendefinisian DAS dan sub-DAS, digital elevation model (DEM), serta data standar parameter hidrologi dan hidrolika.

Hasil analisis citra satelit resolusi tinggi menunjukkan bahwa banjir dipicu oleh fenomena Siklon Tropis Senyar dengan anomali presipitasi yang sangat jarang terjadi. Curah hujan pada akhir November 2025 mencapai level ekstrem (150-300 milimeter per hari) hingga sangat ekstrem (lebih dari 300 milimeter per hari).

Model probabilitas yang digunakan menunjukkan bahwa kejadian ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50.

Pengaruh Alam dan Lokasi Tambang

Ahmad Imam Sadisun, akademisi ITB dari Kelompok Keahlian (KK) Geologi, menambahkan bahwa area longsor yang dipengaruhi hujan ekstrem masif terjadi di zona Toba Tuff dengan kemiringan sangat curam. Kondisi alam ini banyak terdapat di hulu DAS Garoga dan hutan lindung.

Dari sisi geomorfologi, area tambang PT AR jauh posisinya dari Desa Garoga dan berada di luar sub-DAS yang berbeda. Oleh karena itu, secara prinsip aliran air tidak mungkin mengalir dari elevasi lebih rendah menuju wilayah lebih tinggi. Adapun, PT TBS berada di luar DAS Garoga.

Kontribusi Perusahaan Terhadap Banjir

Dalam simulasi banjir model hidrologi dan hidrolika dengan berbagai skenario, tercatat bahwa PT AR hanya berkontribusi 0,32 persen terhadap banjir atau penambahan runoff sebesar 0,71 persen. Adapun, PT NSHE tercatat hanya 0,05 persen dan 0,01 persen, serta PT TBS berkontribusi terhadap banjir sebesar 1,7 persen atau penambahan runoff sekitar 0,06 persen.

Heri menyoroti bahwa masih ada pekerjaan rumah besar, yaitu penggunaan data dan informasi, seperti data geoscience, bagi penelaahan dan pengambilan keputusan berbagai masalah. Dengan data yang akurat dan penggunaan teknologi yang tepat, diharapkan dapat membantu mengurangi risiko bencana di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *