Pertumbuhan Kredit Melambat, Menkeu Purbaya Sebut Penyebabnya

Perlambatan Kredit di Indonesia dan Upaya Pemulihan

Pada bulan Oktober hingga November 2025, terjadi perlambatan dalam pertumbuhan kredit di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh penurunan jumlah uang yang beredar atau uang primer adjusted (M0) selama periode tersebut. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa kondisi ini terlihat dari pengurangan jumlah uang beredar di sistem selama bulan-bulan tersebut.

Menurutnya, Bank Indonesia akan segera melakukan tindakan untuk menambah likuiditas ke perbankan agar dapat meningkatkan kembali jumlah uang beredar di masyarakat. Dengan langkah ini, diharapkan realisasi pertumbuhan kredit bisa kembali naik.

“Bank Sentral akan menambah juga uang ke sistem sehingga kreditnya akan bertambah,” jelasnya.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, jumlah uang beredar pada November 2025 mencapai Rp 2.136,2 triliun atau tumbuh 13,3 persen secara tahunan (year on year). Meskipun demikian, laju pertumbuhan ini lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 14,4 persen dengan nilai Rp 2.117,6 triliun.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2025 mengalami perlambatan. Penyaluran pinjaman kepada sektor UMKM bahkan mengalami kontraksi, meskipun kinerja intermediasi perbankan meningkat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa kinerja intermediasi perbankan meningkat dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas yang memadai. Pada Oktober 2025, pertumbuhan kredit mencapai 7,36 persen year on year (yoy), turun dari 7,70 persen pada September 2025, menjadi sebesar Rp8.220,21 triliun.

Dari sisi penggunaan kredit, kredit investasi tercatat tumbuh paling tinggi, yaitu 15,72 persen. Disusul oleh kredit konsumsi yang tumbuh sebesar 7,03 persen. Sementara itu, kredit modal kerja hanya mampu tumbuh 2,39 persen yoy.

Dari segi debitur, pertumbuhan kredit korporasi tercatat sebesar 11,02 persen. Namun, kredit UMKM justru mengalami kontraksi sebesar 0,11 persen yoy.

Upaya Pemulihan Kredit

Untuk mengatasi perlambatan kredit, Bank Indonesia berencana menambah likuiditas ke perbankan. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan kredit dan meningkatkan jumlah uang beredar di masyarakat. Selain itu, OJK juga memantau perkembangan kredit secara berkala untuk memastikan stabilitas sistem keuangan.

Beberapa sektor seperti kredit investasi dan kredit korporasi menunjukkan pertumbuhan yang positif, namun sektor UMKM masih menghadapi tantangan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih strategis untuk mendukung sektor ini.

Kesimpulannya, perlambatan kredit pada Oktober-November 2025 menunjukkan adanya ketidakstabilan dalam sistem moneter. Namun, dengan upaya pemerintah dan lembaga keuangan, diharapkan pertumbuhan kredit dapat kembali normal dan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *