Perusahaan Teknologi Raksasa Oracle PHK Ratusan Karyawan Karena AI

Oracle Corp. Lakukan Pemangkasan Tenaga Kerja di Divisi Cloud

Perusahaan teknologi multinasional asal Amerika Serikat, Oracle Corp., yang bermarkas di Austin, Texas, dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan di divisi cloud-nya. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mengendalikan anggaran perusahaan di tengah meningkatnya pengeluaran besar-besaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Menurut laporan yang diterima, para pekerja yang terkena dampak PHK telah diberitahu dalam minggu ini bahwa posisi mereka akan dihapus. Informasi ini didapatkan dari sumber internal yang mengetahui situasi tersebut. Dua orang yang mengaku tahu tentang masalah ini menyebutkan bahwa beberapa pengurangan tenaga kerja terkait dengan masalah kinerja, namun unit tersebut tetap melanjutkan proses rekrutmen.

Sebanyak lebih dari 150 posisi di wilayah Seattle, yang biasanya menjadi pusat operasional unit tersebut, dikabarkan telah dipangkas. Sebelumnya, perusahaan juga menyatakan rencana untuk memindahkan kantor pusatnya ke Nashville. Saat ini, jumlah pekerjaan yang terdaftar di Tennessee lebih banyak dibandingkan negara bagian lainnya.

Juru bicara Oracle tidak memberikan respons atas permintaan komentar. Hingga saat ini, cakupan keseluruhan pemangkasan masih belum dapat dipastikan. Pengumuman pertama tentang pengurangan tenaga kerja ini berasal dari DatacenterDynamics, sebuah publikasi industri yang terkenal.

Banyak perusahaan teknologi besar lainnya juga sedang menghadapi tantangan serupa. Mereka mencoba mengatasi lonjakan biaya AI dengan memangkas pengeluaran di bagian bisnis lain. Microsoft Corp., misalnya, telah memangkas sekitar 15.000 pekerjaan pada tahun ini. Selain itu, perusahaan seperti Amazon.com Inc. dan Meta Platforms Inc. juga melakukan pemangkasan serupa.

Saham Oracle terus mengalami peningkatan, mendekati titik tertinggi sepanjang masa, terutama karena momentum yang kuat di unit cloud-nya. Bulan lalu, perusahaan ini menandatangani kesepakatan besar dengan OpenAI, yaitu sekitar 4,5 gigawatt daya pusat data di AS.

Namun, Oracle harus menanggung biaya puluhan miliar dolar untuk membangun server farm yang semakin besar guna memenuhi permintaan pasar. Dalam pengajuan Juni 2025, perusahaan menyatakan bahwa perubahan pada tenaga kerja dilakukan secara berkala akibat perubahan strategi, reorganisasi, atau masalah kinerja.

“Restrukturisasi semacam ini telah mengakibatkan, dan mungkin di masa mendatang, peningkatan biaya restrukturisasi serta penurunan produktivitas sementara selama karyawan beradaptasi dengan perubahan tersebut,” jelas perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *