Seminar Sosialisasi Alkitab Terjemahan Baru 2 di Banjarnegara
Pada hari Sabtu, 22 November 2025, sebuah seminar terbatas diadakan di GKI Banjarnegara untuk memperkenalkan Alkitab Terjemahan Baru Edisi Kedua (TB2). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan dihadiri oleh berbagai tokoh gereja seperti pendeta, hamba Tuhan, majelis, pendidik Kristen, serta jemaat. Sebanyak sekitar 60 peserta hadir dari berbagai denominasi gereja di wilayah Banjarnegara.
Seminar ini difasilitasi oleh Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Banjarnegara dan menghadirkan Pdt Anwar Tjen, salah satu penerjemah Alkitab terkemuka yang juga menjabat sebagai Kepala Penerjemah Alkitab di LAI. Dalam paparannya, ia menjelaskan sejarah panjang penerjemahan Alkitab di Indonesia yang dimulai pada abad ke-17 oleh pedagang Belanda, Albert Cornelisz Ruyl. Ia menerjemahkan Injil Matius ke dalam bahasa Melayu pada tahun 1629.
Pdt Anwar Tjen memiliki gelar Ph.D dari Cambridge University dalam bidang Kitab Perjanjian Lama, Septuaginta, dan Philologi. Menurutnya, Alkitab yang sering digunakan saat ini (TB) sudah mulai usang dalam hal bahasa. Perkembangan Bahasa Indonesia yang begitu pesat membuat perlu adanya pembaruan dalam terjemahan Alkitab. Namun, pembaruan ini tidak mengubah makna asli Alkitab, melainkan lebih menjelaskan dan mudah dipahami.
Dalam sesi diskusi, peserta menanyakan posisi TB2 dibandingkan dengan terjemahan lain seperti SABDA atau terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK). Pdt Anwar Tjen menyarankan penggunaan TB2 dalam kotbah mimbar secara resmi, sementara terjemahan lain bisa digunakan sebagai pelengkap bacaan. Hal ini bertujuan agar para pendeta dapat memilih terjemahan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sekretaris BAMAG Banjarnegara, Pdt Sunar Jonathan, menyatakan bahwa BAMAG tidak mewajibkan penggunaan TB2 bagi anggotanya. Meskipun BAMAG mendukung TB2 secara moral dan simbolik, mereka tidak menetapkan TB2 sebagai satu-satunya terjemahan yang harus digunakan. Menurutnya, setiap pendeta memiliki kebebasan untuk memilih terjemahan Alkitab yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka.
“BAMAG hanya menyatakan ‘Alkitab terjemahan LAI’ sebagai pegangan resmi, yang bisa mencakup TB (versi lama), TB2, atau terjemahan LAI lainnya,” jelas Pdt Sunar Jonathan.
Pdt Anwar Tjen menyampaikan rasa gembira atas antusiasme peserta yang hadir dalam seminar tersebut. Ia menyebutkan bahwa seperti Alkitab TB yang pertama diterbitkan pada 1974, TB2 juga memerlukan sosialisasi selama beberapa tahun agar diterima luas oleh masyarakat Kristen di Indonesia.
TB2 pertama kali diterbitkan pada tanggal 9 Februari 2023 oleh LAI. Ini merupakan pembaruan dari edisi pertama (Alkitab TB) yang telah diterbitkan pada tahun 1974. Proses penerjemahan TB2 dilakukan melalui kerja sama lintas gereja selama dua dekade terakhir, sehingga hasilnya diharapkan lebih relevan dengan perkembangan bahasa dan kebutuhan umat Kristen saat ini.
Tinggalkan Balasan