Penguatan Kerja Sama Akademik Indonesia dan Mesir
Kunjungan resmi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, ke Universitas Al-Azhar Kairo menandai langkah penting dalam memperkuat implementasi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerja sama yang telah ditandatangani sebelumnya antara Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dan Rektor Universitas Al-Azhar.
Rektor Universitas Al-Azhar, Salamah Daud, menyambut kedatangan Wamen Atip dengan penuh antusiasme. Ia menegaskan komitmen universitas untuk terus mendukung pengembangan studi di kawasan Timur Tengah, khususnya dalam bidang bahasa dan sastra. Dalam pertemuan tersebut, Wamen Atip menekankan pentingnya kehadiran program studi ini sebagai bagian dari hubungan historis dan akademik yang kuat antara Indonesia dan Mesir.
“Bahasa Indonesia digunakan oleh lebih dari 275 juta penutur dan dipelajari di 57 negara. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Al-Azhar menjadi sangat penting karena Indonesia dan Mesir memiliki sejarah panjang kerja sama pendidikan, serta banyaknya mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Al-Azhar,” ujar Atip.
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Al-Azhar telah mendapatkan legitimasi melalui Keputusan Majelis Tinggi di Al-Azhar Nomor 343 pada sidang 21 Juli 2025. Program ini akan mulai berjalan pada 20 September 2025 di Fakultas Bahasa dan Terjemah. Sebagai bahasa ke-15 yang diajarkan secara resmi di fakultas tersebut, target awal pendaftaran adalah sebanyak 51 mahasiswa. Namun, laporan peluncuran menunjukkan bahwa minat pendaftar mencapai 350 mahasiswa baru, yang menunjukkan tingginya antusiasme terhadap studi kebahasaan Indonesia.
Wamen Atip juga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Al-Azhar kepada mahasiswa Indonesia yang jumlahnya mencapai 20 ribu orang di Mesir. Untuk memperkuat program studi tersebut, Kemendikdasmen menawarkan sejumlah penguatan kerja sama. Berikut beberapa inisiatif yang disiapkan:
- Pertama, memperluas pertukaran mahasiswa dan dosen antara Indonesia dan Universitas Al-Azhar.
- Kedua, mengirimkan dosen Bahasa Indonesia untuk mengajar langsung di lingkungan Al-Azhar sebagai bagian dari pengingkatan kapasitas pengajaran.
- Ketiga, menyiapkan donasi buku dan literatur keindonesiaan yang akan melengkapi fasilitas pembelajaran Al-Azhar.
Donasi ini mencakup buku-buku sejarah, literatur pendidikan Islam di Indonesia, serta berbagai rujukan resmi pembelajaran Bahasa Indonesia guna memperkaya sumber belajar bagi mahasiswa dan dosen di Mesir. Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Tony Toharudin, turut hadir dan menegaskan kesiapan Indonesia untuk mengirimkan buku-buku referensi yang dibutuhkan guna memperkaya pembelajaran di Fakultas Bahasa dan Terjemah di Universitas Al-Azhar.
Ia berharap, program ini menjadi landasan pendirian Indonesian Centre di Al-Azhar sebagai pusat kajian Indonesia dan diplomasi budaya di Timur Tengah. Rektor Universitas Al-Azhar, Salamah Daud, memberikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Indonesia dan menyebut bahwa pembukaan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia masuk ke dalam daftar bahasa yang penting diajarkan di Al-Azhar. Ia menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk penghargaan Universitas Al-Azhar terhadap rakyat Indonesia yang menunjukkan kedekatan hubungan sejak awal kemerdekaan.
Rektor Salamah berharap, program ini dapat memperdalam pemahaman mahasiswa Al-Azhar mengenai Indonesia dan memperkuat kolaborasi akademik kedua negara. Pada kesempatan ini, Wamen Atip turut mengundang rektor dan pimpinan fakultas untuk berkunjung ke Indonesia guna memperkuat jejaring akademik antarkedua lembaga pendidikan.
Tinggalkan Balasan