WIKA Targetkan Pertumbuhan Kontrak Baru 10% Tahun 2026

Strategi Pemulihan dan Pertumbuhan WIKA Menuju Tahun 2026

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) memiliki rencana ambisius untuk meningkatkan nilai kontrak baru sebesar 10% secara tahunan pada tahun 2026. Untuk mencapai target ini, perusahaan mengambil langkah-langkah strategis yang terfokus pada pemulihan kinerja keuangan. Menurut Sekretaris Perusahaan WIKA, Ngatemin, tiga pilar utama akan menjadi fondasi dari strategi tersebut.

Tiga Pilar Utama Pemulihan Kinerja

Pertama, WIKA akan melakukan restrukturisasi komprehensif. Proses ini melibatkan evaluasi menyeluruh terhadap struktur organisasi, operasional, dan manajemen risiko. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua aspek bisnis berjalan lebih efisien dan efektif.

Kedua, perusahaan akan fokus pada divestasi aset dan pemulihan piutang. Divestasi aset dilakukan untuk memperbaiki likuiditas dan mengalokasikan sumber daya ke proyek-proyek yang lebih menguntungkan. Sementara itu, pemulihan piutang bertujuan untuk meningkatkan arus kas dan stabilitas keuangan perusahaan.

Ketiga, peningkatan operational excellence menjadi prioritas. Hal ini melibatkan pengembangan kapasitas SDM, modernisasi teknologi, serta optimalisasi proses kerja agar dapat memberikan hasil yang maksimal.

Fokus pada Stabilitas Keuangan dan Arus Kas

Selain tiga pilar di atas, WIKA juga menetapkan tujuan untuk mencapai kinerja unggul dengan menjaga stabilitas keuangan dan arus kas sebagai langkah fundamental. Dengan menjaga arus kas yang stabil, perusahaan akan lebih siap menghadapi tantangan pasar dan kesempatan baru yang muncul.

Ngatemin menjelaskan bahwa pertumbuhan 10% yang ditargetkan berasal dari berbagai proyek strategis. Proyek-proyek ini mencakup infrastruktur, gedung, industri, serta hilirisasi. Proyek-proyek ini tidak hanya berasal dari pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga dari sektor swasta.

Capaian Hingga November 2025

Hingga November 2025, total nilai kontrak yang diraih oleh WIKA telah mencapai Rp 10,33 triliun. Angka ini meningkat sebesar Rp 2,5 triliun dibandingkan dengan capaian pada Oktober 2025. Penurunan angka kontrak di bulan Oktober disebabkan oleh beberapa faktor eksternal seperti perubahan regulasi dan kondisi pasar yang sedang fluktuatif.

Dari total kontrak tersebut, sebagian besar berasal dari sektor infrastruktur dan gedung sebesar 49%. Sementara itu, sektor industri penunjang konstruksi mencapai 44%, sektor EPC sebesar 3%, dan sektor properti sebesar 3%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa sektor konstruksi mulai menunjukkan tanda-tanda optimisme, terutama di akhir tahun.

Optimisme di Sektor Konstruksi

Menurut Ngatemin, peningkatan dalam jumlah kontrak menunjukkan bahwa permintaan terhadap layanan konstruksi semakin meningkat. Ini bisa menjadi indikator bahwa perekonomian mulai pulih dan banyak proyek infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dengan strategi yang jelas dan target yang realistis, WIKA percaya bahwa mereka dapat mencapai pertumbuhan yang diharapkan. Selain itu, perusahaan juga akan terus memantau perkembangan pasar dan mengadaptasi strategi sesuai dengan perubahan yang terjadi. Dengan demikian, WIKA akan tetap menjadi salah satu pemain utama dalam industri konstruksi di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *