Warta Bulukumba – Matahari tepat berada di ubun-ubun ketika uap panas menguap dari aspal hitam di poros Bulukumba-Sinjai. Di sudut jalan yang sibuk, tak jauh dari aroma kopi yang menguar di sebuah kedai, suara sendok beradu dengan wadah plastik menciptakan irama yang konstan—trek, trek, trek.
Tangan seorang barista lokal bergerak cekatan, melumatkan daging alpukat yang mentega dan hijau segar. Aroma buah yang khas menyeruak, bercampur dengan dinginnya es batu yang mulai mencair di udara pesisir yang gerah.
Segelas alpukat kocok bukan hanya menawarkan kesegaran instan, melainkan sebuah ritual bertahan hidup dari sengatan cuaca ekstrem. Ya, ini juga sebuah ide jualan yang brlian.
Baca selengkapnya
















