Abdimas UPN Veteran Jatim latih petani kopi Malang bikin kopi rempah & drip coffee

Daerah2 Dilihat

jatim., MALANG – Tren konsumsi kopi di Indonesia terus berkembang. Namun, pertumbuhan industri kopi belum sepenuhnya diikuti peningkatan kesejahteraan petani yang masih banyak bergantung pada penjualan kopi dalam bentuk green bean kepada pengepul.

Kondisi tersebut dialami Kelompok Tani (Poktan) Hidup Makmur dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Sekar Gading di Desa Arjoyoso, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

Selama ini, hasil kopi dari kelompok tersebut mayoritas dijual dalam bentuk green bean kepada pengepul. Pola tersebut membuat ruang peningkatan nilai ekonomi produk kopi masih terbatas.

Untuk mendorong petani melakukan hilirisasi, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) UPN Veteran Jawa Timur memberikan pelatihan diversifikasi produk turunan kopi kepada Poktan Hidup Makmur dan KWT Dewi Sekar Gading.

Tim yang terdiri dari Augustin Mustika Chairil sebagai ketua serta Diana Aqidatun Nisa dan Galuh Pratama sebagai anggota itu memberikan materi mengenai pembuatan kopi rempah dan drip coffee.

Augustin mengatakan diversifikasi produk diharapkan dapat menjadi salah satu solusi agar petani tidak hanya bergantung pada penjualan green bean.

“Harapannya, Poktan dan KWT bisa menghasilkan produk turunan untuk hilirisasinya dan dapat memiliki ketahanan ekonomi, dan tidak mengandalkan pada penjualan kopi green bean-nya saja,” kata Augustin.

Dalam pelatihan tersebut, tim juga memperkenalkan konsep food estate dengan memanfaatkan hasil pertanian tumpangsari dari kebun kopi, seperti jahe, kencur, dan kunyit.

Rempah-rempah tersebut dapat dikombinasikan dengan kopi sehingga menghasilkan produk baru yang memiliki nilai tambah.

Gagasan tersebut juga berangkat dari perkembangan budaya minum kopi di perkotaan yang semakin beragam. Produk kopi rempah, misalnya, mulai menjadi salah satu pilihan menu di sejumlah kedai kopi.

Ketua KWT Dewi Sekar Gading Dita menilai pelatihan kopi rempah memberikan wawasan baru bagi kelompoknya.

“Dulu pernah ada yang memberikan pelatihan dalam pengolahan rempah, tetapi kami baru tahu bahwa kopi rempah saat ini telah menjadi budaya ngopi di perkotaan,” ujar Dita.

Selain kopi rempah, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai diferensiasi kopi berdasarkan tingkat penggilingan.

Tim memperkenalkan tiga tipe penggilingan, yakni coarse atau kasar, medium atau semi halus, dan fine atau halus yang biasa digunakan untuk kopi bubuk.

Pengetahuan tersebut dinilai penting karena produk kopi saat ini tidak hanya berupa kopi bubuk konvensional. Berbagai metode penyeduhan membutuhkan tingkat kehalusan bubuk yang berbeda.

Salah satunya untuk pembuatan drip coffee dan metode seduh lainnya seperti V60 maupun moka pot.

Salah satu anggota Poktan Hidup Makmur yang telah memiliki produk kopi bubuk Marliadi mengaku mendapatkan ide baru dari pelatihan tersebut.

Pemilik brand Margading Coffee itu sebelumnya telah memikirkan cara mengembangkan produk kopi agar memiliki variasi baru.

“Saya dulu sering memikirkan bagaimana caranya menciptakan produk baru, dan ternyata drip coffee bisa menjadi salah satu produk baru yang dapat kami kembangkan ke depannya,” kata Marliadi.

Melalui pelatihan tersebut, Tim Abdimas UPN Veteran Jawa Timur berharap petani dan kelompok perempuan tani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi mulai mampu mengembangkan produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi. (mcr12/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *