
Forumnusantaranews.com- Pendidikan agama bukan sekadar menyampaikan pengetahuan keagamaan. Di ruang kelas, pendidikan agama menjadi bagian dari proses membentuk iman, karakter, sekaligus mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan.
Semangat itulah yang dijalani Yohanes Baptis Sutarno, S.Pd., atau akrab disapa Joes, sebagai pengajar Agama dan Keagamaan Katolik (AKPK) di Kabupaten Purwakarta sejak 2014.
“Menjadi pengajar AKPK bukan sekadar menjalankan tugas mengajar, tetapi merupakan bagian dari panggilan pelayanan pendidikan dan pewartaan iman,” ungkap Joes, Selasa 22 September 2026.
Dalam pembelajaran, Joes tidak hanya mengajak peserta didik memahami ajaran agama, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kejujuran, kasih, tanggung jawab, kepedulian, pengampunan, disiplin, serta menghargai sesama menjadi bagian dari pembentukan karakter.
Perjalanan AKPK di Purwakarta berkembang sejak 2014 dengan semangat memberikan ruang bagi peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai keyakinannya.
Di sekolah dengan latar belakang peserta didik yang beragam, para guru agama dari berbagai agama menjalankan tugas masing-masing sesuai ajaran dan tradisi agamanya.
Menurut Joes, keberagaman tersebut justru menjadi ruang belajar yang berharga bagi anak-anak. Mereka belajar bahwa perbedaan agama tidak menghalangi seseorang untuk berteman, bekerja sama, saling membantu, dan menghormati satu sama lain.
“Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai agama dan keyakinannya, menjadi semangat yang terus dipegang dalam pelayanan pendidikan keagamaan,”tambah Joes.
Dalam pembelajaran agama Katolik, Joes memberikan perhatian pada pendalaman Kitab Suci. Peserta didik tidak hanya diajak memahami isi dan kisah di dalamnya, tetapi juga menemukan nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan.
Dikatakan Joes, nilai kasih, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, menjaga lingkungan, serta keberanian melakukan kebenaran diharapkan tumbuh dalam keseharian peserta didik.
Joes juga melihat pendidikan agama dapat berjalan bersama dengan pendidikan karakter di Purwakarta, termasuk semangat TDBA, Tatanén di Bale Atikan, AKPK, Pendidikan Ramah Anak, dan Pendidikan Antikorupsi.
Baginya, pendidikan memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar mengejar prestasi akademik.
“Iman menjadi dasar nilai, pendidikan memberikan pengetahuan, sementara karakter mendorong anak untuk menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan,”ungkapnya.
Lebih dari satu dekade menjadi pengajar AKPK, Joes meyakini bahwa ruang kelas merupakan salah satu tempat penting untuk menanamkan nilai persaudaraan sejak dini.
Guru agama boleh berbeda dalam ajaran dan tradisi, tetapi dapat bertemu dalam nilai kemanusiaan: kejujuran, kasih, keadilan, tanggung jawab, perdamaian, dan penghormatan terhadap sesama.
Bagi Joes, menjadi guru agama adalah proses untuk terus belajar bersama anak-anak, sekolah, orang tua, sesama guru, serta masyarakat.
Ia berharap peserta didik di Purwakarta tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga beriman, berkarakter, berintegritas, peduli terhadap sesama, menghargai perbedaan, dan mampu hidup berdampingan dalam persaudaraan.
Setelah lebih dari satu dekade mengabdi, Joes ingin terus mengambil bagian dalam menghadirkan pendidikan yang humanis dan menghargai keberagaman.
“Mengajar dengan iman, melayani dengan kasih, dan berjalan bersama dalam keberagaman.” Demikian Joes.



















