Bangko, Forumnusantaranews.com-
Ketertarikan dua evaluator UNESCO Global Geopark terhadap seni kain khas Kabupaten Merangin terbukti bukan sekadar formalitas.
Setelah mencoba membatik di Sanggar Srikandi Markeh, Selasa (11/8), Prof. Dr. Yongmun Jeon dari Jeju Island UNESCO Global Geopark (Korea Selatan) dan Mr. Nicolas Klee dari Monts D’Ardeche UNESCO Global Geopark (Prancis) kembali menjajal keterampilan membatik di Omah Batik Kitab Wong Siau, Rabu (12/8/2026).
Kali ini Lokasi yang dituju adalah Omah Batik Kitab Wong Siau yang dikelola Pondok Pesantren Al-Aziziah, Desa Muara Siau, Kecamatan Muara Siau.
Di sanggar batik berbasis pesantren tersebut, kedua asesor diperkenalkan dua teknik: batik cap motif “kumbang” dan batik lukis dengan kearifan lokal berupa motif ambung (keranjang rotan) lumbung padi, hingga buah nanas.
Suasana kaku penilaian seketika cair saat Mr. Nicolas dan Prof. Jeon mulai memegang canting dan cap batik. Canda tawa pecah saat keduanya saling membandingkan hasil karya.
“Sepertinya saya jauh lebih profesional, karena ini sudah kedua kalinya saya mencoba. Tidak seperti Anda,” seloroh Mr. Nicolas kepada Prof. Yongmun Jeon yang hati-hati menempelkan cap ke kain.
Tak mau kalah, Prof. Jeon membalas dengan gurauan “Ya, Anda mungkin lebih profesional dalam batik cap karena kemarin sudah mencobanya. Tapi kalau untuk batik tulis atau lukis, saya jelas jauh lebih profesional dibanding Anda,” ujarnya santai, memancing gelak tawa santri dan pendamping.
Kehadiran unit usaha batik di lingkungan Ponpes Al-Aziziah juga jadi perhatian tim penilai. Kegiatan membatik di pesantren ini merupakan pembelajaran sekaligus sarana mengasah keahlian para santri.
“Kami membatik sebagai kegiatan ekstrakurikuler setelah jam pelajaran sekolah selesai. Selain untuk mengasah keterampilan, hasil karya ini juga jadi poin nilai tambahan buat kami,” cerita Eka, santriwati kelas II MA Ponpes Al-Aziziah, saat mendampingi tamu internasional.
Pelestarian budaya melalui pendidikan berbasis komunitas seperti di Ponpes Al-Aziziah ini menjadi salah satu pilar penting culturdiversity dan Pemberdayaan masyarakat (community empowerment) yang dinilai sangat kuat dalam mendukung keberlanjutan Geopark Merangin-Jambi di mata UNESCO.(*)
Aksi Kocak Evaluador UNESCO di Ponpes Al- Aziziah Siau, Adu Keahlian Membatik hingga Saling Ejek



















