Alarm Londo Ireng, Pak Presiden

Kritik sebagai Vitamin Demokrasi yang Menyehatkan Pemerintahan

Saya selalu percaya, tidak ada pemerintahan yang sempurna. Tidak ada pemimpin yang seluruh kebijakannya akan dipuji. Sehebat apa pun seorang presiden, pasti ada keputusan yang disambut tepuk tangan, tetapi ada pula yang memancing tanda tanya. Bagi saya, itulah wajah demokrasi yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, saya selalu memandang kritik bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai vitamin bagi kekuasaan. Kritik adalah cara rakyat mengatakan, “Pak, mungkin ada yang perlu diperbaiki.” Tanpa kritik, seorang pemimpin bisa terjebak pada keyakinan bahwa semua berjalan baik, padahal kenyataan di lapangan belum tentu demikian.

Itulah sebabnya ketika Presiden Prabowo Subianto menggunakan istilah londo ireng, saya tidak ingin terburu-buru menghakimi. Saya mencoba memahami lebih dahulu apa pesan yang sebenarnya ingin beliau sampaikan. Saya menangkap bahwa presiden sedang mengingatkan bangsa ini agar tidak mudah menjadi alat kepentingan asing. Sebuah pesan tentang nasionalisme. Sebuah ajakan agar kepentingan Indonesia tetap berada di atas kepentingan siapa pun. Sampai di situ, saya tidak melihat ada persoalan.

Namun, dalam politik, persoalan sering kali bukan terletak pada niat, melainkan pada pilihan kata. Kalimat yang keluar dari mulut seorang Presiden tidak pernah berhenti sebagai sekedar kalimat. Ia terus berubah menjadi persepsi, lalu jadi tafsir, jadi sikap, bahkan bisa menjadi legitimasi bagi sebagian orang untuk memberi cap kepada mereka yang berbeda pandangan. Sampai di sini, saya jadi khawatir.

Jangan sampai istilah londo ireng kemudian dipahami secara longgar hingga siapa saja yang mengkritik pemerintah dianggap sedang bekerja untuk kepentingan asing, padahal, mengkritik pemerintah tidak sama dengan membenci negara. Saya sering mengatakan dalam berbagai diskusi, mencintai Indonesia tidak selalu berarti membenarkan pemerintah. Justru karena cinta kepada negeri ini, masyarakat merasa berkewajiban mengingatkan ketika melihat ada kebijakan yang dianggap kurang tepat.

Kalau semua kritik dianggap sebagai ancaman negara, lalu siapa yang akan mengingatkan ketika pemerintah keliru? Bukankah demokrasi memang dibangun dengan sistem saling mengawasi?

Ada DPR yang mengawasi pemerintah. Ada media yang menjalankan fungsi kontrol. Ada akademisi yang memberi masukan ilmiah. Ada lembaga survei yang membaca suara publik. Ada organisasi masyarakat sipil, dan tentu saja ada rakyat biasa yang dijamin konstitusi untuk menyampaikan pendapatnya. Mereka bukan musuh negara. Mereka justru bagian dari mekanisme agar negara tidak salah arah.

Yang menarik, pemerintahan Presiden Prabowo sesungguhnya memiliki modal politik yang sangat besar. Koalisi pendukungnya kuat, legitimasi pemilinya tinggi, tingkat kepercayaan publik juga relatif baik. Dengan modal sebesar itu, sesungguhnya pemerintah tidak perlu alergi terhadap kritik. Jika ada yang mengatakan suatu program gagal, jawab dengan data. Jika ada yang mengatakan rakyat tidak puas, tunjukkan hasil survei. Jika ada informasi yang keliru, luruskan dengan fakta.

Karena dalam politik modern, data selalu lebih kuat daripada stigma. Saya justru melihat di sinilah pentingnya survei berkala atau tracking survey. Persepsi publik tidak cukup ditebak. Ia harus diukur secara ilmiah. Apakah tingkat kepuasan masyarakat naik atau turun? Apakah tingkat kesukaan publik masih tinggi? Apakah elektabilitas tetap terjaga? Semua pertanyaan itu memiliki jawaban yang bisa diuji melalui metodologi, bukan sekadar asumsi atau emosi.

Yang lebih saya khawatirkan justru apabila ruang kritik semakin sempit. Sebab ketika kritik mulai menghilang, yang tersisa hanyalah suara-suara yang menyenangkan telinga penguasa. Sejarah mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana, banyak pemimpin tidak jatuh karena terlalu banyak dikritik. Mereka jatuh karena terlalu lama hanya mendengar pujian.

Dalam ilmu pemerintahan ada istilah echo chamber, yaitu situasi ketika seorang pemimpin hanya dikelilingi oleh orang-orang yang mengatakan apa yang ingin ia dengar. Ketika itu terjadi, keputusan politik perlahan kehilangan pijakan terhadap kenyataan. Saya percaya Presiden Prabowo tentu tidak menginginkan keadaan seperti itu, beliau dikenal sebagai sosok yang tegas sekaligus memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan. Karena itu saya berharap istilah londo ireng tidak berkembang menjadi budaya baru yang membuat masyarakat takut bersuara.

Karena kritik yang baik bukanlah musuh pemerintah. Kritik adalah pengingat (alarm). Alarm memang berisik. Kadang mengganggu. Tetapi tidak ada orang waras yang mematikan alarm hanya karena bunyinya keras. Alarm justru ada agar kita segera tahu ada sesuatu yang harus diperbaiki sebelum semuanya terlambat.

Saya juga percaya masyarakat Indonesia sudah semakin dewasa. Mereka mampu membedakan mana kritik yang lahir dari kepedulian dan mana kritik yang memang sekadar bermotif politik. Maka tugas pemerintah bukan memberi label kepada para pengkritik, melainkan menjawab substansi kritik itu sendiri. Disinilah letak kebesaran seorang negarawan. Negarawan tidak sibuk mencari siapa yang mengkritiknya. Negarawan sibuk mencari apa yang bisa diperbaiki dari kritik itu.

Kalau memang ada pihak yang benar-benar bekerja untuk kepentingan asing dan melanggar hukum, negara memiliki perangkat hukum yang cukup untuk menindaknya. Tetapi jangan sampai kritik yang sah, yang dijamin konstitusi, ikut terseret dalam narasi yang membuat rakyat akhirnya memilih diam.

Karena ia akan berujung pada pemerintah membutuhkan rakyat yang jujur. Rakyat yang jujur, pada waktu-waktu tertentu, memang harus berani mengkritik. Tidak semua kritik lahir dari kebencian. Tidak semua pujian lahir dari ketulusan. Seorang pemimpin besar bukanlah mereka yang berhasil membungkam kritik, melainkan mereka yang mampu mengubah kritik menjadi energi untuk memperbaiki pemerintahan.

Demokrasi tidak pernah runtuh karena terlalu banyak kritik. Demokrasi akan kehilangan ruhnya ketika orang-orang baik memilih diam karena takut diberi label.

Selamat bekerja mister Presiden, nikmati kritik rakyatmu sebagai vitamin, yakinlah bahwa rakyatmu sangat mencintai negara ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *