Bos OpenAI senang ternyata salah soal ramalan PHK massal karena AI

Daerah29 Dilihat

– Ketakutan soal gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat kecerdasan buatan (AI), sejauh ini, tidak terbukti terjadi di Amerika Serikat.

Analisis terbaru The Economist justru menemukan sebaliknya. Kehadiran AI memicu ledakan lapangan kerja baru, bukan malah menghapusnya.

AI, sejauh ini, sudah menciptakan sekitar 1 juta lapangan kerja baru di Amerika Serikat (AS). PHK yang terkait langsung dengan AI diperkirakan cuma sekitar 200.000 orang. Penciptaan lapangan kerja jauh melampaui penghapusannya, dengan selisih sekitar 800.000 lapangan kerja baru.

Tingkat pengangguran di AS sekarang ada di angka 4,1 persen. Angka ini lebih rendah, dibanding sekitar 90 persen periode bulanan sepanjang 50 tahun terakhir.

Ekonomi negeri Paman Sam ini bahkan menambah 162.000 lapangan kerja baru, cuma dalam Agustus 2026 saja. Angka ini melampaui perkiraan banyak ekonom.

Industri terkait pusat data mencatat 320.000 lapangan kerja tambahan di atas tren sejak 2023. Pekerjaan profesional dan teknis, mulai dari insinyur sampai ilmuwan data, bertambah 730.000 posisi di atas tren sejak 2022.

Lowongan kerja spesifik AI sendiri tumbuh 640.000 posisi baru, sepanjang 2023 sampai 2025, menurut LinkedIn. Profesi software developer tercatat sebagai salah satu yang kenaikannya paling tajam.

Tukang AC kebagian berkah

Ledakan lapangan kerja ini tidak cuma dirasakan pekerja kerah putih. Raksasa teknologi seperti Amazon, Microsoft, Google, dan Meta menggelontorkan investasi besar-besaran.

Dana itu untuk membangun pusat data, tempat melatih dan menjalankan model AI. Pembangunan data center inilah pendorongnya. Kebutuhan tenaga kerja fisik jadi besar.

Tukang listrik, teknisi AC, tukang ledeng, insinyur jaringan listrik, sampai teknisi pemasangan dan perawatan mesin ikut kebagian berkah ini. Produsen peralatan listrik pun ikut kebanjiran order.

Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat memproyeksikan sektor utilitas bakal jadi yang paling cepat tumbuh, sampai 2035 mendatang. Proyeksi ini didorong permintaan listrik, dari data center AI yang terus bertambah di seluruh negeri.

Ada lima industri inti pembangunan data center, mulai dari kontraktor listrik sampai produsen peralatan. Sejak 2023, lapangan kerja di sektor-sektor itu naik sekitar 320.000 posisi. Angka itu lebih tinggi dari yang diperkirakan tren konstruksi dan manufaktur secara umum. 

Kelompok usia 20-24 tahun, yang sering disebut paling rentan kena dampak otomatisasi AI, justru menunjukkan performa yang relatif baik.

Temuan ini kontras dengan prediksi banyak pihak, termasuk sejumlah bos perusahaan AI sendiri, yang sempat berulang kali mewanti-wanti soal ancaman ini.

Profesi baru AI

AI turut melahirkan kelas pekerjaan kerah putih baru. Ada insinyur yang membangun model, dan orang yang memberi label pada data latih (data annotator).

Ada juga profesi “forward-deployed engineer” yang menyesuaikan model AI buat klien, sampai posisi “kepala AI” (head of AI) yang menentukan arah pemanfaatan AI perusahaan.

Menurut LinkedIn, lowongan untuk posisi-posisi itu kira-kira berlipat ganda sejak 2023-2024.

Kepala ekonom di Burning Glass Institute, Gad Levanon memproyeksikan sekitar 1 persen dari seluruh pekerjaan profesional di AS sekarang tergolong “pekerjaan AI”, setara sekitar 1 juta posisi. Di bidang komputer dan ilmu hayati, porsinya bahkan mencapai 4-5 persen.

LinkedIn sendiri mencatat sekitar 640.000 pekerjaan baru yang spesifik terkait AI muncul sepanjang 2023-2025.

Ada juga efek tidak langsung. AI membuat pengacara bisa menyusun kontrak lebih cepat. Analis pun bisa menyisir laporan keuangan cuma dalam hitungan menit. Kalau produktivitas yang lebih tinggi ini bikin biaya jasa profesional turun, permintaan terhadap jasa itu bisa naik. Ujungnya, tercipta lebih banyak pekerjaan.

Sejumlah profesi justru diuntungkan dari efek ini, padahal tadinya dianggap paling rentan tergerus AI. Antara 2023 dan 2025, jumlah paralegal naik sekitar 11 persen. Analis riset pasar naik 6 persen. Keduanya jauh di atas rata-rata nasional yang cuma sekitar 2,5 persen.

Disrupsinya tetap ada

Gambaran ini bukan berarti AI sama sekali tidak berdampak negatif. Disrupsi akibat AI tetap terjadi, cuma tidak merata di semua sektor.

Pekerjaan administratif, tugas back-office, sampai layanan pelanggan, masih jadi kelompok paling rentan kena otomatisasi. Sekitar 200.000 PHK yang terkait AI tadi, sebagian besar terjadi di kelompok pekerjaan ini.

Pergeseran ini, lebih cocok digambarkan sebagai perubahan jenis keahlian yang dibutuhkan pasar kerja. Bukan penghapusan pekerjaan secara total. Sejumlah profesi lama memang tergerus, tapi profesi baru bermunculan menggantikannya, bahkan dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Bos AI salah prediksi

Kekhawatiran soal “kiamat lapangan kerja” ini justru sempat digaungkan sendiri oleh para petinggi perusahaan AI. CEO OpenAI, Sam Altman, misalnya, pernah yakin banyak pekerjaan layanan pelanggan bakal hilang digantikan AI.

Namun, dalam sebuah konferensi pada Mei 2026 lalu, Altman mengakui prediksinya meleset.

“Saya kira bakal ada lebih banyak dampak ke pekerjaan kerah putih level pemula yang hilang sampai sekarang, dibanding yang benar-benar terjadi,” kata Altman.

“Saya senang ternyata salah soal ini,” ujarnya, meski tetap mewanti-wanti risikonya belum sepenuhnya hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *