DPRD Jateng Kecam Ancaman Gagal Panen Akibat Cuaca Ekstrem, Pemerintah Diminta Jaga Harga Pangan

Perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap Persediaan Pangan dan Pengendalian Harga

Dalam situasi cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini, persediaan pangan dan pengendalian harga menjadi fokus utama bagi pemerintah provinsi Jawa Tengah. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah, yang menyoroti dampak cuaca ekstrem terhadap sejumlah daerah di wilayah tersebut.

Cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan banjir di berbagai wilayah. Banjir tersebut tidak hanya mengganggu kehidupan masyarakat, tetapi juga menggenangi lahan pertanian, yang berpotensi menyebabkan gagal panen. Menurut Sarif, yang akrab disapa Kakung, ancaman ini semakin serius akibat perubahan iklim yang terus berlangsung.

“Cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi merupakan risiko yang tidak dapat dihindari. Namun, dampaknya dapat diminimalkan melalui mitigasi yang baik dan kesiapsiagaan pemerintah daerah,” jelas Kakung. Ia menekankan pentingnya langkah-langkah preventif untuk menghadapi tantangan ini.

Selain itu, Kakung juga menyambut baik upaya Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang memerintahkan kepala daerah untuk segera mengajukan asuransi gagal panen. Langkah ini bertujuan untuk meminimalkan dampak bencana terhadap produksi pangan dan menjaga stabilitas ekonomi petani.

“Kita harus memikirkan nasib para petani yang akan kehilangan penghasilan karena produksi taninya hancur akibat banjir, sekaligus bagaimana harga kebutuhan pangan ini juga terkendali,” tegasnya. Dengan adanya asuransi, diharapkan para petani dapat memiliki perlindungan finansial ketika menghadapi bencana alam.

Pertanian memiliki peran strategis dalam perekonomian daerah maupun nasional. Kontribusi sektor ini terhadap produk domestik bruto (PDB) tingkat nasional mencapai 14,35 persen, dengan daya serap tenaga kerja sekitar 40 juta orang. Angka ini menunjukkan bahwa pertanian bukan hanya penopang ketahanan pangan, tetapi juga menjadi fondasi kesejahteraan masyarakat.

Target swasembada pangan pada 2026, termasuk pencapaian target produksi padi sebesar 10,5 juta ton gabah kering giling (GKG), menjadi prioritas pemerintah provinsi. Namun, tantangan seperti cuaca ekstrem dan bencana alam harus segera diatasi agar target ini dapat tercapai.

Kakung menegaskan bahwa pemerintah harus bisa mengatasi persoalan ancaman gagal panen yang dialami petani di sejumlah daerah. Petani tidak hanya mengalami pengurangan keuntungan, tetapi ada juga yang merugi karena sawah dan kebunnya terendam banjir. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang proaktif dan responsif untuk melindungi para petani.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Peningkatan sistem peringatan dini cuaca ekstrem.
  • Pengembangan infrastruktur pertanian yang tahan terhadap bencana.
  • Peningkatan akses pendidikan dan pelatihan bagi petani.
  • Penguatan sistem distribusi pangan untuk menjaga ketersediaan dan harga stabil.

Dengan komitmen dan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, sektor pertanian dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *