Fakta-fakta erupsi Gunung Anak Krakatau dari Jumat malam hingga Sabtu dini hari

Daerah19 Dilihat

Ringkasan Berita:• Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi beruntun sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari

• Aktivitas vulkanik menghasilkan fenomena lava fountain dan suara dentuman yang terdengar hingga Serang
• Status gunung saat ini berada pada Level III atau Siaga dengan radius aman 3 kilometer
• PVMBG mengimbau masyarakat pesisir agar tidak panik karena erupsi tidak otomatis memicu tsunami

– Ditengah rasa penasaran perihal dentuman misterius yang ada di Bandung pada dina hari tadi, kini masyarakat Indonesia pun juga dihebohkan dengan kabar jika Gunung Anak Krakatau di wilayah Selat Sunda erupsi hingga menghasilkan gemuruh dan lava fountain (lava air mancur).

Menurut informasi yang beredar, jika kini status gunung masih Siaga (Level III) dan masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.

Dari beberapa informasi yang dilansir, jika Gunung api tersebut mengalami empat kali erupsi pada Jumat (4/9/2026) pagi setelah terakhir kali meletus pada Senin (31/8/2026).

Tiga erupsi pertama terjadi beruntun pada pukul 04.11 WIB, 04.19 WIB, dan 04.28 WIB.

Ketiganya tidak teramati secara visual, tetapi tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum masing-masing 33 mm, 60 mm, dan 70 mm.

Erupsi berikutnya terjadi pukul 05.46 WIB.

Fakta Erupsi Gunung Anak Krakatau

1. Erupsi berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 malam.

Laporan pengamatan menyebut Gunung Anak Krakatau mulai mengalami erupsi menerus sejak pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga laporan Sabtu pagi dibuat.

2. Erupsi disertai fenomena lava fountain.

Aktivitas vulkanik kali ini menghasilkan lava fountain atau lava air mancur, yakni material lava pijar yang terlontar dari kawah akibat aktivitas erupsi.

3. Terdengar suara dentuman dan gemuruh.

Dentuman serta suara gemuruh dilaporkan terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

4. CCTV pengamatan bahkan terdampak lontaran material.

Dalam laporan pengamatan disebutkan CCTV di lapangan mengalami gangguan/off akibat terkena lontaran dari aktivitas erupsi.

5. Sedikitnya 10 kali erupsi tercatat dalam rangkaian aktivitas tersebut.

Laporan yang mengacu pada MAGMA Indonesia menyebut sedikitnya 10 kali erupsi tercatat sejak malam 4 September hingga dini hari 5 September, dengan erupsi terbaru yang dilaporkan pada 00.01 WIB.

6. Tercatat gempa letusan/erupsi.

Pengamatan kegempaan mencatat satu kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo maksimum 70 mm dan durasi 21.600 detik dalam laporan kondisi tersebut.

7. Status Gunung Anak Krakatau masih Level III atau Siaga.

Status tersebut bukan berarti gunung berada pada level tertinggi. Pada Juli 2026, PVMBG juga menyatakan Gunung Anak Krakatau belum pernah mencapai Level IV/Awas.

8. Ada batas aman 3 kilometer dari kawah aktif.

Masyarakat, wisatawan, maupun pengunjung dilarang mendekati atau melakukan aktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.

9. Erupsi Anak Krakatau tidak otomatis berarti tsunami.

PVMBG sebelumnya mengimbau masyarakat pesisir Banten dan Lampung agar tidak panik karena erupsi tidak serta-merta menyebabkan tsunami.

10. Erupsi ini penting dikaitkan dengan dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah.

Memang terdapat kesamaan waktu antara aktivitas erupsi Anak Krakatau dan laporan dentuman. Namun, belum tepat menyimpulkan bahwa dentuman yang terdengar sampai Bandung pasti berasal dari Anak Krakatau. Jaraknya sangat jauh dan perlu konfirmasi resmi dari BMKG/PVMBG sebelum hubungan tersebut dinyatakan sebagai fakta.

 

Simak berita update lainnya di: Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *