Jambi, Forumnusantarnews.com
Kawasan Kota Tua Jambi kembali bergeliat. Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi
melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Siginjai Sakti resmi menggelar
Jambi Artistry Gastronomy Festival (JAG Fest) 2026 sebagai upaya
menghidupkan kawasan bersejarah menjadi pusat ekonomi, seni, budaya dan
kreativitas.
Festival bertema “Kuliner, Komunitas, Musik dalam Satu Cerita” ini
dipusatkan di kawasan Istana Anak-Anak dan Hotel Duta, Kota Tua Jambi, pada
3-4 Oktober 2026. Kegiatan ini rencananya akan digelar rutin setiap akhir
pekan dengan tema berbeda.
JAG Fest 2026 dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra
Aljosha, S.E., M.A., Sabtu malam (03/10/2026). Ratusan warga tumpah ruah
memadati lokasi pembukaan.
JAG Fest bukan sekadar festival kuliner. Event ini menjadi ruang temu
lintas generasi dan lintas komunitas. Pelaku UMKM, seniman, musisi,
komunitas K-Pop, jejepangan, otomotif, hingga pelaku ekonomi kreatif lokal
diberikan panggung yang sama untuk berekspresi dan berkolaborasi.
Beragam rangkaian acara disuguhkan, mulai dari bazar kuliner khas Jambi,
panggung musik dan talenta komunitas lokal, hingga games dan program
berhadiah untuk pengunjung.
Di sisi lain, JAG Fest menjadi instrumen nyata Pemkot Jambi dalam
memperkuat ekonomi kerakyatan. UMKM difasilitasi untuk memasarkan produk
unggulan secara langsung ke masyarakat.
Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha dalam sambutannya menegaskan, JAG
Fest adalah ruang ekspresi kecintaan terhadap Kota Jambi.
“Kota ini memiliki kekayaan dan sejarah yang luar biasa. Kita memiliki
Batanghari, warisan budaya Melayu, batik Jambi, tanjak, seni tradisi, dan
tentu saja kekayaan kuliner kita. Kalau keunikan ini dikelola dengan baik,
semuanya bisa menjadi kekuatan ekonomi,” ujar Diza.
Ia menilai, di tengah perubahan ekonomi dan disrupsi teknologi, kreativitas
adalah kekuatan ekonomi baru.
“JAG Fest ini memberikan ruang bagi UMKM untuk memperkenalkan produknya,
bagi seniman untuk berkarya, bagi musisi dan komunitas untuk berekspresi,
serta bagi anak-anak muda untuk menciptakan sesuatu yang baru,” tuturnya.
Diza berharap manfaat JAG Fest tidak berhenti saat festival usai, melainkan
berkelanjutan.
“Kita ingin UMKM memiliki ruang, produk lokal semakin dikenal, kreator dan
seniman terus berkarya, sehingga masyarakat mendapatkan pengalaman dan
kebahagiaan,” katanya.
Meski Kota Jambi tengah dilanda kabut asap, Diza memastikan roda ekonomi
kreatif harus tetap berputar.
“Inilah konsep kita untuk terus membangun ekosistem ekonomi kreatif. Meski
saat ini kita sedang dilanda kabut asap, transaksi dan pertumbuhan ekonomi
harus tetap berjalan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemilihan Kota Tua sebagai lokasi festival merupakan
strategi menghidupkan kembali kawasan bersejarah agar tidak hanya menjadi
penjaga masa lalu, tapi menjadi ruang hidup masa kini dan masa depan.
“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Kita membutuhkan UMKM, pelaku
usaha, komunitas, seniman, anak muda, media, dan seluruh masyarakat. Mari
kita buktikan bahwa Kota Jambi bukan hanya punya sejarah, tetapi juga
kreativitas dan masa depan,” pungkasnya.
Melalui JAG Fest 2026, Pemkot Jambi optimistis Kota Tua akan menjadi magnet
baru wisata, pusat promosi produk lokal, ruang tumbuh komunitas kreatif,
sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan di Kota Jambi.(*)



















