Janji kampanye Trump soal Bitcoin mulai berantakan gara-gara AI

Tak Berkategori21 Dilihat

– Ambisi Presiden AS Donald Trump menjadikan Amerika Serikat (AS) sebagai pusat penambangan Bitcoin mulai berantakan.

Penyebabnya adalah ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan lesunya pasar kripto yang berkepanjangan.

Para penambang di AS kini ramai-ramai mengubah fasilitas tambang Bitcoin mereka menjadi pusat data (data center) untuk melayani AI.

Untuk diketahui, janji kampanye soal Bitcoin sempat jadi salah satu daya tarik Trump di mata komunitas kripto saat kampanye 2024. Ia menyuarakannya di konferensi Bitcoin 2024.

Gara-gara AI

Di hadapan para penggemar kripto, Trump mengatakan bahwa ingin setiap Bitcoin “dibuat, ditambang, dan dicetak” di dalam negeri. Ia bahkan ingin menjadikan AS sebagai pusat penambangan Bitcoin nomor satu dunia.

Salah satu kekhawatirannya waktu itu adalah persaingan dari China.

China memang pernah menguasai industri ini. Negara itu menikmati energi murah dan pasokan mesin dari produsen lokal seperti Bitmain Technologies. Namun razia besar-besaran pemerintah China pada 2021 mengubah peta.

Banyak penambang hengkang ke luar negeri, dan AS lalu menjadi tumpuan baru berkat energi yang relatif murah serta pasar modal yang dalam.

Kondisi berbalik dalam setahun terakhir. Meski harga sempat naik lagi belakangan, nilai pasar Bitcoin secara keseluruhan sudah anjlok sekitar 1 triliun dollar AS atau sekitar Rp 18.000 triliun dari puncaknya pada Oktober 2025. Keuntungan dari menambang pun menipis, nyaris tak pernah setipis sekarang.

Menambang Bitcoin bukan pekerjaan yang ramah listrik. Pada dasarnya, ini adu kecepatan mesin secara global.

Prosesnya mengandalkan komputer khusus yang berpacu memecahkan teka-teki matematika tanpa henti. Yang pertama berhasil berhak mencatat transaksi baru ke jaringan Bitcoin, lalu mendapat imbalan berupa koin baru. Karena berjalan nonstop, mesin-mesin ini melahap daya listrik dalam jumlah besar.

Dampak kelesuan pasar terbaca dari sisi daya komputasi. Menurut penyedia jasa penambangan kripto Luxor Technology, penambangan Bitcoin kini memakai daya komputasi 18 persen lebih sedikit dibanding Oktober tahun lalu.

Di saat yang sama, kebutuhan AI meledak. Para penambang berlomba mengubah fasilitasnya jadi pusat data yang disesuaikan untuk industri AI.

Alasannya sederhana. Melayani AI kini jauh lebih menguntungkan ketimbang menambang koin, dan perusahaan-perusahaan tambang publik terbesar pun bergerak ke arah yang sama. Sebagian produsen perangkat tambang kripto bahkan ikut banting setir ke AI.

Keluarga Trump ikut terpukul

Pergeseran ini turut memukul keluarga Trump. American Bitcoin Corp., perusahaan tambang yang digagas dua putra tertua Trump, baru diluncurkan tahun lalu. Waktunya nyaris berbarengan dengan jatuhnya harga kripto dari rekor tertinggi.

Sejak itu, perusahaan tersebut sudah merugi tiga kuartal berturut-turut. Nilai sahamnya ambles sekitar 90 persen dalam setahun terakhir.

Bahkan lahan yang semula disiapkan untuk perusahaan itu berakhir melayani AI. Perusahaan tambang Hut 8 awalnya menimbang kampus Beacon Point miliknya di Texas untuk American Bitcoin. Kesepakatan itu diungkap Hut 8 pada Juli lalu.

Kampus itu justru berakhir dengan dua kontrak sewa AI berjangka 15 tahun. Total kapasitasnya 704 megawatt. Angka sebesar itu cukup untuk memasok listrik ratusan ribu rumah.

Lahan berlistrik jadi rebutan

Inti perebutannya ada pada pasokan listrik. Pusat data AI butuh daya besar dalam waktu cepat. Masalahnya, membangun pembangkit, jaringan, dan peralatan baru butuh waktu bertahun-tahun.

Di sinilah kampus tambang jadi jalan pintas. Lokasi seperti ini biasanya sudah mengantongi izin dan sambungan listrik besar yang siap pakai. Pengembang AI pun bisa langsung beroperasi tanpa menunggu pembangunan dari nol.

Tak heran lahan semacam ini jadi buruan pengembang AI dan raksasa komputasi awan (hyperscaler).

Kebijakan pemerintah ikut mempercepat arus ini. Sebuah perintah eksekutif pada Juli 2025 mewajibkan percepatan izin federal untuk pusat data dan infrastruktur listriknya. Perintah itu juga membuka pemakaian lahan dan sumber daya federal untuk mendukung pembangunan.

Pada Juni 2026, giliran Komisi Pengatur Energi Federal AS (Federal Energy Regulatory Commission/FERC) turun tangan. Lembaga itu meminta para operator jaringan listrik mempercepat penyambungan pusat data. Biayanya pun tidak boleh dibebankan ke pelanggan lain.

Arah industrinya kini makin jelas. Sampai akhir tahun ini, sebagian besar pendapatan penambang publik di AS diperkirakan sudah datang dari AI, bukan lagi dari Bitcoin, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Bloomberg.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *