Lima belas jembatan di Aceh putus akibat bencana Sumatera

Penanganan Darurat Akibat Bencana Hidrometeorologi di Aceh

Bencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Aceh menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur jalan dan jembatan. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, mengungkapkan bahwa sebanyak 15 unit jembatan terputus di beberapa ruas jalan nasional. Untuk menangani situasi darurat ini, pemerintah menetapkan kebutuhan sebanyak 18 unit jembatan Bailey.

Dari jumlah tersebut, 8 unit sudah tersedia dan dipasang di lokasi prioritas, sementara 10 unit lainnya sedang dalam proses pemenuhan dan mobilisasi dari berbagai wilayah di luar Aceh. Jembatan Bailey akan ditempatkan di sejumlah ruas strategis yang menghubungkan wilayah pesisir, dataran tengah, dan kawasan pedalaman Aceh.

Lokasi Kebutuhan Jembatan Bailey

Di wilayah Bireuen hingga Bener Meriah dan Aceh Tengah, jembatan Bailey dibutuhkan di beberapa titik seperti Teupin Mane, Alue Kulus, Weihni Enang-enang, Weihni Rongka, Timang Gajah, Weihni Lampahan, dan Jamur Ujung. Di lintas Aceh Tengah–Nagan Raya hingga Lhok Seumot–Jeuram, jembatan Bailey diperlukan untuk memulihkan akses di Jembatan Krueng Beutong.

Selain itu, kebutuhan jembatan Bailey juga tersebar di lintas Pameue–Genting Gerbang–Simpang Uning, termasuk Jembatan Krueng Pelang, Jeurata, dan Titi Merah, serta di ruas Simpang Uning–Uwaq pada Jembatan Lenang. Di wilayah Gayo Lues hingga Aceh Tenggara dan Kutacane, jembatan Bailey dibutuhkan pada Jembatan Lawe Penanggalan, Lawe Mengkudu, serta dua titik badan jalan putus pada ruas Blangkejeren–batas Gayo Lues/Aceh Tenggara.

Mobilisasi Jembatan Bailey

Untuk mempercepat pemulihan konektivitas, Kementerian PU mempercepat mobilisasi dan pemasangan jembatan Bailey. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemulihan infrastruktur yang menjadi prioritas utama pemerintah karena berdampak langsung pada aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Dody menjelaskan bahwa seluruh sumber daya Kementerian PU bergerak maksimal untuk memastikan akses darat dapat segera pulih. Proses ini sangat penting karena berkaitan dengan mobilitas warga, distribusi bantuan, dan aktivitas pemulihan di lapangan.

Sumber dan Proses Pengadaan Jembatan Bailey

Kementerian PU memobilisasi jembatan Bailey dari berbagai sumber. Sebanyak 10 unit jembatan Bailey telah disiapkan, termasuk 1 unit dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Riau ke Kutacane, 6 unit dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur, 2 unit dari Depo Citeureup, dan 1 unit dari BPJN Jambi.

Selain itu, sejumlah BUMN turut membantu, seperti 5 unit dari Adhi Karya, 3 unit dari Hutama Karya, dan 1 unit dari Nindya Karya. Salah satu progres yang sedang berjalan adalah mobilisasi jembatan Bailey dari Balikpapan menuju Lhokseumawe.

Hingga 13 Desember 2025 pukul 09.00 WITA, di Gudang BPJN Kalimantan Timur telah dilakukan pemilihan dan pemilahan 3 set jembatan Bailey. Dua set jembatan telah disusun di atas 8 truk, sementara satu set lainnya sedang dimobilisasi menuju Pelabuhan Kariangau menggunakan 4 truk. Di Pelabuhan Kariangau, rangka jembatan tersebut disusun ke dalam 2 unit kontainer 40 feet dan 10 unit kontainer 20 feet.

Proses ini didukung oleh alat-alat berat seperti crane, flatbed truck, ekskavator, hyap crane, dan forklift, baik di workshop maupun di pelabuhan. Kementerian PU terus berusaha agar akses kembali fungsional secepat mungkin. Jalan dan jembatan merupakan urat nadi pergerakan masyarakat dan distribusi logistik.

Prioritas Utama Pemulihan Infrastruktur

Sebelumnya, Dody juga menekankan percepatan pembangunan jembatan darurat di jalur Lintas Tengah Aceh untuk memulihkan konektivitas pasca-bencana banjir bandang dan tanah longsor. Sebanyak 13 jembatan di sepanjang koridor tersebut dilaporkan rusak, sehingga menghambat pergerakan masyarakat dan distribusi logistik, terutama menuju wilayah pegunungan Takengon.

Pemulihan akses jalan dan jembatan menjadi prioritas utama penanganan di Aceh. Infrastruktur dasar ini sangat menentukan kelancaran mobilitas warga serta penyaluran bantuan. Kementerian PU terus berupaya agar akses ini kembali fungsional secepat mungkin. Jalan dan jembatan adalah urat nadi pergerakan masyarakat dan distribusi logistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *