Menhub jelaskan alasan masih tutup 8 bandara hingga tengah malam

Daerah26 Dilihat

.CO.ID, JAKARTA — Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih memutuskan menutup operasional delapan bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga pukul 24.00 WIB. Penutupan ini bisa diperpanjang sesuai kondisi sebaran abu vulkanik.

Dudy menjelaskan, keputusan tersebut diambil setelah Kemenhub berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan penerbangan dan memperoleh informasi terbaru mengenai arah pergerakan abu vulkanik dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Setiap empat jam kita akan melakukan update kondisi terakhir,” kata Dudy dalam konferensi pers di Jakarta pada Ahad (6/9/2026).

Dudy menyebut, berdasarkan informasi BMKG sekitar pukul 17.00 WIB, arah angin yang sebelumnya bergerak ke barat kini mengarah ke timur dengan kecepatan sekitar lima knot pada ketinggian flight level 15 ribu kaki. “Kita khawatir bahwa ini akan semakin melebar,” ujarnya.

Dudy juga menjelaskan, terdapat dua bandara tambahan yang terdampak abu vulkanik hingga operasional ditutup sementara yakni Bandara Taufik Kiemas Lampung dan Bandara Udara Atung Bungsu Pagar Alam. Dengan demikian, total terdapat delapan bandara yang terdampak abu vulkanik.

“Setelah kami melakukan koordinasi maka kami memutuskan bahwa ke-8 bandara tersebut akan kami tutup sampai dengan pukul 24.00 WIB,” ucap Dudy.

Penutupan sementara tersebut akan dievaluasi kembali pada tengah malam nanti. Dudy akan melihat perkembangan sebaran abu untuk memastikan apakah konsentrasinya mulai berkurang atau justru semakin meluas.

Selain itu, Dudy juga memastikan, terus melakukan pemantauan secara berkala. Pengujian dilakukan setiap 30 menit di seluruh bandara, bukan hanya delapan bandara yang terdampak. “Khususnya yang mengarah ke timur untuk mengantisipasi apakah penyebaran debu itu semakin melebar atau berkurang,” kata Dudy.

 

 

Bandara khusus pendaratan

Menhub Dudi menyebut, pemerintah telah membuka sejumlah bandara alternatif untuk mendukung operasional penerbangan yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka, Bandara Ahmad Yani di Kota Semarang, Bandara Juanda di Kabupaten Sidoarjo, dan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo, dan Bandara Adi Soemarmo di Kabupaten Boyolali, disiapkan sebagai alternatif.

Langkah itu dilakukan bagi maskapai yang membutuhkan lokasi untuk melakukan lepas landas maupun pendaratan. Hal itu karena sejumlah bandara, khususnya Soekarno-Hatta masih belum bisa beroperasi normal untuk penerbangan dan pendaratan.

“Tadi saya juga sampaikan untuk memberikan alternatif kepada airlines apabila ingin menggunakan, karena kita sudah membuka Bandara Kertajati, kemudian juga Bandara Semarang, Juanda, Yogyakarta, kemudian Solo. Kita buka untuk operasi 24 jam apabila airlines ingin menggunakan bandara-bandara alternatif untuk take off dan landing, kami persilakan,” jelas Dudi.

Dia juga menyebut, pemerintah sudah menyiapkan dukungan transportasi darat bagi penumpang apabila maskapai memilih mengalihkan penerbangan ke bandara-bandara alternatif tersebut. PT Angkasa Pura, kata Dudy, telah menawarkan dukungan penggunaan sejumlah bandara alternatif, termasuk penyediaan akses transportasi bagi penumpang.

“Juga kita tawarkan tadi dari Pak Dirut Angkasa Pura apabila ingin menggunakan, misalnya Bandara Juanda atau Bandara Solo, Yogyakarta, transportasi daratnya akan kita tanggung. Penggunaan kereta bagi para penumpang yang ingin mengakses ke bandara-bandara alternatif tersebut, kita akan menyiapkan cara-cara transportasi daratnya, misalnya seperti kereta,” ujar Dudi.

Menurut Dudi keputusan penggunaan bandara alternatif nantinya berada pada masing-masing maskapai. Masyarakat yang terdampak juga dapat menentukan apakah tetap melanjutkan perjalanan dengan memanfaatkan penerbangan dari bandara alternatif atau membatalkan perjalanan.

“Nanti itu bagaimana masyarakat mengaksesnya? Tentunya nanti ke airlines. Tergantung dari airlines apakah mereka mau menggunakan bandara alternatif tersebut dan juga tergantung kepada masyarakat apakah masih ingin melakukan perjalanan dengan memindah perjalanannya dari bandara-bandara alternatif tersebut atau mereka membatalkan perjalanan,” kata Dudi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *