Renungan Harian Katolik: 70 x 7 x
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Dalam perjalanan iman, ada satu hal yang sering dianggap sulit, yaitu mengampuni. Mengampuni bukan berarti melupakan kesalahan atau membiarkan ketidakadilan terjadi. Namun, mengampuni adalah memilih untuk tidak membiarkan luka dan dendam menguasai hati kita.
Pada hari Kamis pekan XIX, Gereja mengajak kita untuk menatap Yesus yang memberikan ajaran kasih yang unik: pengampunan yang tak terbatas, bahkan sampai tak terhitung jumlahnya. Ini adalah ajakan untuk menjalani hidup dengan pola pikir yang berbeda dari cara manusia biasanya.
Dalam bacaan pertama dari kitab Yehezkiel (Yeh. 12:1-12), Allah menunjukkan bahwa dosa memiliki konsekuensi yang nyata dalam kehidupan umat-Nya. Yehezkiel hidup dalam situasi yang penuh tantangan sebagai tanda bagi umat. Allah tidak mengabaikan kekerasan hati dan ketidaksetiaan, tetapi justru di balik gambaran yang keras ini, ada pesan rohani: Allah mengundang umat untuk kembali, bukan karena Ia suka menghukum, tetapi karena Ia ingin pemulihan.
Dalam Injil Matius (Mat. 18:21-19:1), Petrus bertanya kepada Yesus tentang batas pengampunan: “Sampai tujuh kali?” Pertanyaan ini mencerminkan keinginan untuk taat, tetapi juga sikap manusiawi yang cenderung memiliki batas. Yesus menjawab dengan cara yang tidak biasa: bukan tujuh kali, tetapi tanpa batas. Pesan utamanya adalah bahwa kerajaan Allah mengharapkan pola hidup yang melampaui perhitungan manusia.
Tema “70 x 7 x” mengingatkan kita bahwa menghitung pengampunan bukanlah tujuan akhir. Tujuan utamanya adalah memiliki hati yang mampu berkata, “Aku tetap memilih kasih, meski sulit.” Ketika kita mengampuni, kita sedang membiarkan diri dibentuk menjadi seperti Tuhan. Allah memulai proses pemulihan, sebagaimana ditunjukkan oleh Yehezkiel, bahwa dosa itu serius, tetapi Allah tetap membimbing umat pada pertobatan.
Pengampunan yang benar tidak berarti menyepelekan luka. Pengampunan mengundang kebenaran dan pertobatan agar hubungan bisa pulih, bukan hanya ditutup sementara. Dendam membuat hati seperti terkunci, sedangkan pengampunan membuka hati. Ketika kita berusaha mengampuni, kita tidak kehilangan harga diri—justru kita melepaskan beban yang menekan jiwa. Semakin kita berlatih mengampuni, semakin kita bebas menjadi anak-anak Allah.
Pesan untuk Kita Hari Ini
Pertama, seringkali kita ingin batas pengampunan yang “masuk akal”, tetapi Yesus menegaskan bahwa kasih tidak bisa dibatasi hanya oleh perhitungan manusia. Kedua, ketika Allah memanggil kita untuk kembali, Ia menunjukkan bahwa tujuan-Nya selalu pemulihan, bukan kehancuran. Ketiga, maka hari ini, mari melangkah satu tahap lagi: berani mengampuni meski harus “lebih dari tujuh kali”, bahkan sampai tak terhitung.
Maka, marilah kita menjalani hidup dengan hati yang terbuka dan penuh kasih. Dengan mengampuni, kita tidak hanya memperbaiki hubungan dengan sesama, tetapi juga memperkuat iman kita kepada Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kita semua.



















