JAKARTA – Seorang pakar kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Gunawan Aryaputra, hadir dalam Science x AI Summit 2026 yang diadakan di Silicon Valley, Amerika Serikat. Acara ini menjadi ajang penting yang mengumpulkan ilmuwan, peneliti, pelaku industri, dan perusahaan teknologi global untuk membahas perkembangan teknologi AI berikutnya.
Forum ini tidak hanya fokus pada peluncuran produk baru, tetapi lebih menekankan pada arah pengembangan teknologi AI dalam jangka panjang. Menurut Gunawan Aryaputra, industri AI global saat ini sedang memasuki fase baru yang tidak lagi hanya berfokus pada ukuran model atau jumlah parameter.
“Kini perhatian industri mulai beralih ke AI Agent, sistem penalaran otonom, AI untuk riset ilmiah, serta penerapan AI di sektor nyata seperti keuangan, kesehatan, manufaktur, dan robotika,” ujarnya dalam pernyataannya, Senin (1/6).
Gunawan menjelaskan bahwa masyarakat dalam beberapa tahun terakhir lebih mengenal AI melalui chatbot, generator gambar, atau video berbasis kecerdasan buatan. Namun, ia menambahkan bahwa fokus industri saat ini sudah bergeser ke bagaimana AI dapat bekerja secara mandiri dan memberikan dampak langsung bagi berbagai sektor.
“Sebelumnya AI dikenal karena kemampuannya berinteraksi atau mengobrol, sekarang tantangannya adalah bagaimana AI bisa benar-benar bekerja dan menyelesaikan tugas secara efektif,” katanya.
Menurut Gunawan, perubahan ini terjadi karena pengembangan model AI semakin mahal, sementara peningkatan kemampuan model tidak lagi tumbuh secepat sebelumnya. Oleh karena itu, persaingan industri AI global kini mulai bergeser ke efisiensi algoritma, kualitas data, dan kemampuan implementasi di dunia nyata.
Dalam acara tersebut, tim yang dipimpin oleh Gunawan Aryaputra juga memperluas kolaborasi strategis dengan NVIDIA. Menurutnya, kerja sama ini tidak hanya berkaitan dengan pengadaan GPU atau perangkat keras komputasi, tetapi juga mencakup pengembangan fondasi teknologi AI secara menyeluruh.
“Melalui kolaborasi yang lebih erat dengan NVIDIA, kami berharap dapat memperkuat fondasi komputasi AI sekaligus mempercepat penerapan teknologi AI di berbagai sektor industri,” ujar Gunawan.
Dia menjelaskan bahwa kerja sama tersebut meliputi pengembangan sumber daya komputasi AI, optimalisasi algoritma, sistem data, hingga arsitektur pelatihan model AI.
Gunawan menilai masa depan persaingan AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan model, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem yang mencakup komputasi, data, dan implementasi industri.
“Ke depan, AI akan makin banyak digunakan pada sektor-sektor strategis seperti kesehatan, keuangan, manufaktur, riset, robotika, hingga kendaraan otonom,” katanya.
Perkembangan ini menandai pergeseran industri AI global dari tahap eksplorasi teknologi menuju tahap transformasi dan rekonstruksi berbagai sektor industri.
Tinggalkan Balasan