Cerpen: Perampasan aset koruptor

Daerah7 Dilihat

Oleh: Sagiyatul Maulud

Tinggal di Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Apakah ada seseorang yang dapat memastikan bahwa dirinya masih akan tetap hidup sampai esok hari, seminggu lagi, bulan depan, bahkan bertahun-tahun yang akan datang?

Tentang kematian, tidak seorang pun yang tahu kapan dan di mana hal itu akan terjadi, bahkan di tempat mana ia akan dimakamkan. 

Lahir dan mati silih berganti dalam perputaran waktu kehidupan. Hanya Tuhan sendiri yang mengetahui semua rahasia tersebut.

Sejak masih berada di dalam kandungan seorang ibu, kita telah dijaga dengan penuh kasih sayang. Orang tua berharap agar setelah lahir ke dunia, kita dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang bermanfaat bagi keluarga, lingkungan, dan bangsa.

“Saya bahagia karena telah ditakdirkan lahir di bumi Indonesia…”  yang berlimpah dengan kekayaan alam, berupa tanah, air, dan berbagai sumber daya alam lainnya. Saya bersyukur menjadi bagian dari negeri yang kaya akan keindahan dan keberagaman ini.

Pagi itu, matahari mulai muncul dari ufuk timur. Terdengar percakapan santai antara saya dan Ibu di halaman rumah.

“Terima kasih, ya, Ibu. Saya bahagia memiliki Ibu seperti dirimu. Di sisi lain, saya juga bangga menjadi anak Indonesia. 

“Ibu, bangsa kita ini selalu saja mendapat ujian dan cobaan. Pada musim hujan ada banjir dan tanah longsor. Pada musim panas  terjadi kebakaran hutan dan lahan,  belum lagi erupsi gunung api dan gempa bumi. Mengapa demikian, ya, Ibu?”

Dengan nada pelan dan wajah yang teduh, Ibu menjawab dengan polos, “Mungkin dunia sudah tua, Nak.”

Saya pun menyambung, “Ibu, sekarang kita memang belum bisa membantu dengan harta, tenaga, maupun pikiran. Namun, kita jangan pernah berhenti berdoa untuk saudara-saudara kita yang terkena gempa di Flores serta mereka yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. 

“Semoga mereka segera pulih dan mampu melewati ujian dan cobaan tersebut.”

Pergantian waktu antara siang dan malam begitu cepat. Dari detik menjadi menit, menit menjadi jam, hari berganti minggu, hingga tanpa terasa tahun pun berganti. 

“Sepertinya baru kemarin, ya, Ibu, kita merayakan hari ulang tahun kemerdekaan bangsa kita yang ke-81 tahun. Jika bangsa kita diibaratkan seperti manusia, maka bangsa kita sudah memasuki fase lanjut usia. “Begitu, kan, Ibu?” 

“Benar, Nak. Bangsa kita sudah berdaulat dan merdeka dari penjajahan.”

“Ibu, usia bangsa kita memang tidak lagi muda jika diukur dengan usia manusia. Namun, perkembangan bangsa kita sepertinya masih berjalan di tempat. Belum banyak perubahan besar yang benar-benar dapat kita lihat dan rasakan.”

Bukan berarti bangsa kita tidak mau maju, tetapi mungkin kita sendiri yang belum cukup berusaha untuk bangkit dan melangkah maju. Padahal, negeri kita memiliki kekayaan alam yang berlimpah. 

Tinggal bagaimana kekayaan tersebut dikelola dan dimanfaatkan dengan baik untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa kita.”

Belum lagi berbagai persoalan seperti kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan, dan korupsi yang seakan-akan telah membudaya dalam kehidupan bangsa ini. 

“Rezim pemerintahan terus berganti. Setiap lima tahun, kita melaksanakan pemilihan umum secara demokratis. Perhelatan pesta demokrasi tersebut membutuhkan anggaran yang tidak sedikit…”  dengan harapan bahwa siapa pun pemimpin yang terpilih mampu menciptakan dan membawa perubahan besar bagi kemajuan bangsa ini.

Namun, harapan tersebut tentu tidak hanya bergantung pada siapa yang menjadi pemimpin. Kemajuan bangsa juga membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan partisipasi seluruh masyarakat. 

Sebab, perubahan yang besar tidak akan terwujud jika hanya mengandalkan pemerintah tanpa adanya kemauan dari setiap warga negara untuk turut berkontribusi bagi negeri ini.

“Nak, bangsa kita adalah bangsa yang besar. Ibu yakin dan percaya, jika sudah tidak ada lagi orang yang melakukan korupsi, tidak ada lagi orang yang dengan sengaja membakar hutan dan lahan, serta angka kemiskinan dan pengangguran dapat terus ditekan, bangsa kita akan semakin maju.

Namun, Nak, yang namanya manusia terkadang tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dimilikinya. Korupsi merupakan salah satu sumber masalah. Korupsi adalah perbuatan memperkaya diri sendiri dengan mengambil atau menggunakan sesuatu yang bukan haknya.”

Menurut Ibu, salah satu alasan mengapa bangsa kita belum berkembang dan maju adalah karena kita belum cukup berani dalam menindak tegas para pelaku korupsi. Jika hukum ditegakkan dengan adil dan tegas, serta setiap orang memiliki kesadaran untuk menjaga kejujuran dan tanggung jawab, Ibu percaya bangsa kita akan mampu bergerak menuju perubahan yang lebih baik.”

“Ibu, kemarin ada demonstrasi besar-besaran di Gedung DPR RI di Jakarta. 

Masyarakat dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah, datang untuk menyampaikan aspirasi mereka. Salah satu tuntutan yang mereka sampaikan kepada para wakil rakyat adalah adanya kepastian mengenai pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset.

Puji Tuhan, aspirasi mereka telah diterima dan mendapat respons dari para wakil rakyat. Mereka juga dijanjikan bahwa pembahasan RUU tersebut akan diselesaikan pada bulan Desember tahun ini.

Semoga saja, Nak. Semoga apa yang telah dijanjikan dapat benar-benar diwujudkan dan menjadi langkah baik bagi bangsa kita.”

“Kita tunggu saja, ya, Ibu. Jika nanti RUU tersebut sudah disahkan, semoga dapat menjadi landasan hukum yang kuat untuk memberikan sanksi tegas kepada para koruptor dan mengembalikan aset yang diperoleh dari hasil korupsi.

Namun, di sisi lain, Ibu, kita juga harus berhati-hati. Jangan sampai aturan tersebut disalahgunakan sebagai alat untuk menekan, mengkriminalisasi, atau merugikan orang-orang yang tidak disukai. Hukum harus digunakan secara adil, transparan, dan berdasarkan bukti, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.”

“Nak, bangsa kita sebenarnya tidak pernah mengalami krisis orang-orang hebat.

Mungkin saja, orang-orang yang jujur, baik, dan memiliki integritas belum mendapatkan kesempatan serta kepercayaan untuk mengemban sebuah amanah. 

Padahal, bangsa ini membutuhkan orang-orang yang mampu memimpin dengan kejujuran, ketulusan, dan rasa tanggung jawab demi mewujudkan perubahan yang lebih baik.”

“Nak, jangan terus-menerus mengeluh. Ibu masih sanggup memberikanmu makan. 

Mungkin, di dunia ini ada orang yang kehidupannya jauh lebih sulit daripada kita, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana perjuangan mereka.

Nak, berdoalah kepada Tuhan agar tubuh kita senantiasa diberikan kesehatan dan kita selalu dapat menikmati nikmat sehat yang telah diberikan-Nya. 

Hidup berkecukupan jauh lebih baik daripada hidup bergelimang harta, tetapi harta tersebut diperoleh dengan cara yang tidak adil.

Kelak, di hadapan Tuhan, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang kita miliki dan apa yang telah kita lakukan selama hidup di dunia ini.”

“Iya, Ibu. Benar. Saya mengerti.” (*)

Simak terus berita, cerpen dan artikel opini di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *