
Forumnusantaranews.com- Sekitar 400 katekis dari berbagai wilayah Keuskupan Bandung mengikuti Hari Studi Katekis 2026 yang digelar Komisi Kateketik Keuskupan Bandung di Gedung Bumi Siliwangi Asih (BSA), dan menjadi momentum penting bagi para katekis untuk memperdalam wawasan iman, memperbarui semangat pelayanan, serta mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan ini juga menjadi ruang belajar dan refleksi bagi para katekis untuk memperkuat karya pewartaan Gereja sekaligus menyikapi perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Sesi pertama menghadirkan R.P. Dr. Thomas Kristiatmo, S.S., M.Hum., L.Th. yang membahas Magnifica Humanitas atau “Kemanusiaan yang Agung”. Para peserta diajak menyadari bahwa di tengah kemajuan AI, martabat manusia, kebebasan, hati nurani, dan tanggung jawab tetap harus menjadi pusat.
AI tidak boleh menjadi pengganti manusia, tetapi harus ditempatkan sebagai sarana untuk membantu kehidupan, memperkuat kebaikan bersama, serta mendukung keadilan dan kesejahteraan.
Materi juga menyoroti berbagai tantangan AI, mulai dari manipulasi informasi dan deepfake, penggunaan AI dalam peperangan, hingga dampaknya terhadap dunia kerja. Para katekis diajak melihat perkembangan teknologi dari perspektif Ajaran Sosial Gereja, terutama nilai solidaritas, subsidiaritas, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat setiap pribadi.
Sementara itu, R.P. Vincentius Dwi Sumarno, Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Bandung, membawakan materi mengenai dinamika Liturgi dan Kerygma. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara katekese, liturgi, dan pewartaan agar umat tidak hanya mengetahui iman, tetapi juga mampu menghayati dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
AI untuk Mendukung Pewartaan
Sesi berikutnya menghadirkan Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit yang membahas pemanfaatan AI dalam karya pewartaan Gereja.
Para katekis diperkenalkan pada berbagai pemanfaatan AI, seperti membantu menyusun materi katekese, bahan pembelajaran, ide komunikasi iman, materi visual, hingga mendukung pelayanan di ruang digital.
Namun, teknologi tetap harus digunakan secara bijaksana, etis, dan bertanggung jawab. AI adalah alat, sementara manusia tetap menjadi pengarah dan penanggung jawabnya.
Suasana kegiatan semakin hangat ketika Lisa Ariyanto, istri Prof. Eko Indrajit, turut hadir dan membawakan sebuah lagu bagi para peserta.
12 Pewarta Purwakarta Ikut Belajar Bersama
Paroki Salib Suci Purwakarta turut ambil bagian dengan mengirimkan 12 pewarta muda, pengajar agama Katolik, dan katekis Katekumenat.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari semangat belajar bersama dan memperkuat kaderisasi pewarta Gereja. Generasi muda mendapat kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus memahami tantangan pewartaan di tengah perkembangan dunia digital dan AI.
Hari Studi Katekis 2026 pun menjadi pengingat bahwa menjadi pewarta berarti terus belajar dan beradaptasi, tanpa kehilangan dasar utama pelayanan: iman, kasih, kebenaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Di tengah kemajuan teknologi, Gereja tetap dipanggil menghadirkan Kristus yang dekat dengan manusia, membawa harapan, persaudaraan, dan kasih.
Teknologi boleh berkembang, AI boleh semakin canggih, tetapi manusia tetap harus menjadi pusat dan kasih tetap menjadi jiwa pewartaan.


















