Inflasi AS Menurun, Tekanan pada Rupiah dan SBN Mungkin Berkurang

Ekonomi106 Dilihat



Kondisi Inflasi AS yang Melandai Berdampak Positif pada Pasar Keuangan Indonesia

Inflasi Amerika Serikat (AS) yang menurun pada Juli 2026 memberikan ruang bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk menunda pengetatan kebijakan moneter. Kondisi ini dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia, terutama melalui penurunan tekanan terhadap rupiah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

Lead Economist Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, menyatakan bahwa inflasi AS yang lebih rendah mengurangi urgensi The Fed untuk segera menaikkan suku bunga. Pada Juli 2026, inflasi AS hanya naik 0,1% secara bulanan atau 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti meningkat 0,2% secara bulanan atau 2,5% secara tahunan.

Menurutnya, kondisi tersebut, ditambah dengan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS, memberikan ruang bagi The Fed untuk menunggu dan melihat perkembangan data ekonomi sebelum mengambil kebijakan pengetatan lebih lanjut.

Dampak bagi Pasar Keuangan Indonesia

Bagi Indonesia, situasi ini memberikan dukungan jangka pendek bagi rupiah dan pasar SBN. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih rendah pada September dapat meredam tekanan terhadap imbal hasil US Treasury (UST) dan dolar AS.

“Ini memberikan dukungan bagi aset dan aliran portofolio di pasar negara berkembang,” ujar Faiz dalam pernyataannya, Kamis (13/8/2026). Dengan tekanan eksternal yang sedikit mereda, kondisi ini juga dapat mendukung aliran modal portofolio ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, ia menekankan bahwa risiko eksternal belum sepenuhnya hilang karena pasar hanya menunda, bukan menghapus, ekspektasi pengetatan The Fed. Karena itu, perbedaan suku bunga antara AS dan Indonesia masih menjadi salah satu kendala yang perlu diperhatikan.

Beberapa faktor seperti penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil UST, harga minyak yang tinggi, maupun pelemahan arus portofolio tetap dapat kembali menekan pasar keuangan domestik.

Kebijakan Moneter di Indonesia

Di sisi kebijakan moneter, kondisi ini memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga tanpa harus melakukan pengetatan lebih lanjut dalam waktu dekat. Faiz memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga kebijakan di level 5,75% pada Agustus 2026 dan lebih mengandalkan kebijakan non-suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.

Meski demikian, ruang pengetatan belum sepenuhnya tertutup. Jika tekanan eksternal kembali meningkat, BI berpotensi menaikkan suku bunga hingga 6,25% pada akhir tahun.

“Sambil tetap mempertahankan opsi untuk melanjutkan pengetatan di akhir tahun ini, berpotensi hingga 6,25%, jika tekanan eksternal meningkat melalui penguatan dollar AS, imbal hasil UST yang lebih tinggi, harga minyak yang tinggi, atau arus portofolio yang lebih lemah,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *