.CO
— Belakangan ini, istilah “desil” menjadi topik yang paling banyak dibicarakan oleh masyarakat. Hal ini terjadi karena adanya rencana pemerintah untuk membatasi pembelian BBM bersubsidi jenis Pertalite bagi masyarakat kelas atas. Namun, masih banyak orang yang belum memahami secara jelas apa arti desil dan bagaimana posisinya menentukan siapa saja yang berhak mendapatkan bantuan dari uang rakyat.
Dalam ilmu statistik, desil adalah metode pemeringkatan yang digunakan untuk membagi sekelompok data—dalam kasus ini, tingkat ekonomi penduduk—menjadi sepuluh bagian yang sama besar. Setiap bagian mewakili 10 persen dari total populasi Indonesia, diurutkan mulai dari kelompok yang paling tidak sejahtera hingga yang paling kaya.
Peta Kesejahteraan: Siapa Masuk Kategori Mana?
Untuk menentukan penerima bantuan sosial maupun subsidi energi, pemerintah menggunakan kriteria Desil Kesejahteraan sebagai acuan utama. Berikut penjelasannya:
- Desil 1: Kategori Sangat Miskin, yaitu 10% populasi terbawah dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
- Desil 2: Kategori Miskin, mencakup 10–20% dari garis kesejahteraan populasi.
- Desil 3: Kategori Hampir Miskin, meliputi 20–30% dari populasi.
- Desil 4: Kategori Rentan Miskin, yang mencakup 30–40% dari jumlah penduduk.
- Desil 5–7: Kategori Menengah Bawah hingga Menengah, yang mencakup 40–70% dari populasi.
- Desil 8: Kategori Menengah Atas, yaitu 70–80% dari populasi.
- Desil 9 & 10: Kategori Kaya dan Sangat Kaya, mencakup 20% populasi teratas dengan tingkat kesejahteraan tertinggi.
Uji Coba Penerapan pada Pengetatan Pertalite
Pengelompokan berdasarkan desil ini menjadi dasar saat pemerintah ingin membatasi penggunaan Pertalite bagi kelompok Desil 9 dan Desil 10. Dengan mekanisme ini, pembatasan BBM bersubsidi akan otomatis mengunci 20 persen masyarakat paling mampu agar tidak lagi menikmati fasilitas subsidi tersebut.
Di sisi lain, 80 persen masyarakat lainnya yang berada di Desil 1 hingga Desil 8 tetap terlindungi dan berhak mendapatkan akses bahan bakar bersubsidi. Langkah ini diharapkan bisa membantu mengurangi praktik salah sasaran anggaran negara yang selama ini sering dinikmati oleh kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi tinggi.
Manfaat dan Tujuan dari Sistem Desil
Penerapan sistem desil memiliki beberapa manfaat penting, antara lain:
- Memastikan bahwa subsidi energi hanya diberikan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
- Menghindari penyaluran dana negara yang tidak tepat sasaran.
- Membantu pemerintah dalam merancang kebijakan yang lebih adil dan berkeadilan.
- Memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kondisi ekonomi masyarakat secara keseluruhan.
Dengan demikian, sistem desil bukan hanya sekadar konsep statistik, tetapi juga alat penting dalam pengambilan keputusan politik dan sosial. Melalui penggunaan desil, pemerintah dapat lebih efektif dalam menyalurkan bantuan dan subsidi kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.



















