ForumNusantaranews.com LAMPUNG UTARA – “Lamun mak kham sapa lagi, lamun mak ganta kapan lagi”, merupakan pribahasa atau slogan dalam bahasa Lampung yang berarti “Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi”. Kalimat tersebut merepresentasikan semangat kolektif untuk menjaga keberlanjutan budaya Lampung.
HMI Cabang Kotabumi melalui kepala bidang PTKP HMI Cabang Kotabumi Tengku Putra Pratama menilai, HMI sangat menyayangkan apabila Kegiatan Colour Fun pada tanggal 30 Agustus di stadion sukung, mendatang tetap di selenggarakan.
Hal itu bukan kemudian menolak kabupaten ini untuk ramai berkegiatan, akan tetapi kegiatan colour fun itu di harapkan untuk di pertimbangkan kembali, karena generasi muda seharusnya mampu mempresentasikan nilai-nilai budaya masyarakat lokal, bukan justru digiring untuk mengikuti budaya asing. maka sangat berdasar apabila dikatakan mentalitas inlander dimulai dari colour fun.
“Colour fun atau color run modern berasal dari negara Amerika Serikat, pertama kali diadakan pada tahun 2011. Dan konsep lempar bubuk warna-warni itu terinspirasi dari Festival Holi yang merupakan budaya dan tradisi keagamaan umat Hindu di India” terang Tengku Putra pada Senin (17 Agustus 2026).
Hal tersebut lanjut dia, berpotensi menjadi salah satu faktor yang mendorong degradasi pemahaman dan kepedulian generasi muda terhadap budaya lokal. Sebagai generasi yang memiliki keterikatan dengan daerah dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan warisan budaya, sudah semestinya kita memberikan perhatian lebih terhadap kegiatan yang mampu menciptakan ruang bagi pelestarian budaya lokal.
Seorang politikus Bapak H Aprozi Alam, masih kata Tengku, yang kapasitasnya sebagai anggota DPR RI komisi VIII Partai Golkar. Seharusnya mampu menerjemahkan kebutuhan sosial budaya hari ini. Pertanyaan paling mendasar adalah apa dasar pikir penyelenggaraan colour fun?
Kita kroscek aksi foto gaya tutup telinga di yunani (1965), merupakan bentuk perlawanan beliau terhadap budaya luar. Ia menegaskan bahwa bangsa kita harus berdaulat secara budaya dan tidak menggaungkan budaya barat.
Jika ditinjau dari aspek sejarah, bangsa ini tidak ada cerita sejarah perayaan lempar bubuk warna-warni. Presiden Indonesia Soekarno dalam buku bung Karno dan Revolusi Mental pernah dikatakan anjing kurap tiada harga. Inlander kotor seperti kamu (bung Karno) umpat orang tua gadis pujaan bung Karno yang kebetulan orang Belanda sambil meludah tidak pantas dekat dengan anak orang asing, kamu binatang kotor.
Sementara, imbuh PTKP HMI Cabang Kotabumi tersebut. Tkoh publik sekaligus tokoh politik seperti bapak H Aprozi Alam seharusnya mampu merasakan bagaimana pengalaman pahit dan menyakitkan bapak proklamator kita dalam perjuangannya melawan mentalitas inlander, yang pada saat itu rakyat pribumi di cekoki dengan berbagai hal dengan dogma-dogma bahwa bangsa asing lebih unggul dibanding dengan pribumi yang dianggap terlahir sebagai bangsa yang bodoh.
Itulah kemudian yang menjadi dasar pikir kader HMI Cabang Kotabumi menyayangkan kegiatan colour fun padahal mendorong dan menggaungkan budaya lokal justru akan lebih menjadi gerakan strategis memberdayakan budaya bangsa yang ada, bukan justru gegap gempita mendorong maju budaya asing di tempat kita, sehingga menunjukan bahwa kita seolah-olah tidak berdaulat dengan budaya dan jati diri bangsa kita sendiri.
HMI Cabang Kotabumi menaruh harapan besar terhadap stakeholder untuk tidak menormalisasi budaya asing agar eksistensi budaya daerahnya tidak tergerus. HMI Cabang Kotabumi juga mengecam acara colour fun yang akan di selenggarakan di stadion sukung kotabumi pada minggu, 30 agustus 2026 sebagai tantangan bagi masyarakan dalam mempertahankan keberlanjutan budaya daerah. (*)



















