
Forumnusantaranews.com- Semangat persaudaraan, kebangsaan, dan kerukunan lintas agama mengemuka dalam peringatan Milad Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Purwakarta ke-51 yang dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026.
Bukan sekadar seremoni, momentum tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus refleksi bersama tentang pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Kegiatan berlangsung penuh keakraban dengan dihadiri Bupati Purwakarta Om Zein, Ketua Umum MUI Jawa Barat Dr. KH. Aang Abdullah Zein, M.Pd.I., Ketua Umum MUI Kabupaten Purwakarta Drs. KH. M. John Dien, Th., S.H., M.Pd., serta Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat sekaligus pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta.
Turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama, Sekretaris Daerah, unsur Forkopimda, Kajari, Wakapolres, para ulama dan kyai, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat Kabupaten Purwakarta.
Milad MUI dan Kemerdekaan, Dua Momentum yang Bertemu
Milad MUI ke-51 menjadi momentum untuk kembali menegaskan peran ulama dalam membimbing umat, menjaga moral, memperkuat dakwah yang sejuk dan moderat, serta ikut menciptakan kehidupan masyarakat yang rukun dan harmonis.
Sementara HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan.
Kemerdekaan merupakan amanah yang harus diisi dengan karya, kepedulian, persatuan, gotong royong, serta kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Di Purwakarta, dua momentum tersebut dipertemukan dalam satu pesan besar: agama dan kebangsaan bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan dapat berjalan berdampingan untuk membangun kehidupan yang damai dan bermartabat.
Ketua MUI Jabar Tekankan Lima Karakter
Dalam tausiyahnya, Ketua Umum MUI Jawa Barat Dr. KH. Aang Abdullah Zein, M.Pd.I., mengajak masyarakat untuk terus mengedepankan moderasi beragama.
Menurutnya, moderasi beragama menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial agar tetap damai, saling menghormati, dan mampu merawat persatuan di tengah perbedaan.
Ia juga menekankan pentingnya membangun lima karakter utama dalam kehidupan masyarakat.
Pertama, semangat, yakni memiliki motivasi untuk terus berbuat baik dan memberikan manfaat.
Kedua, tangguh, tidak mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan zaman.
Ketiga, berkarakter, dengan menjunjung tinggi akhlak, integritas, dan kepribadian yang baik.
Keempat, peduli, memiliki kepekaan terhadap kondisi dan kebutuhan orang lain.
Kelima, berbagi kasih, yakni menghadirkan kepedulian dan kasih sayang melalui tindakan nyata.
Lima karakter tersebut dinilai menjadi modal penting untuk membangun masyarakat Purwakarta yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga tangguh secara sosial dan kokoh dalam semangat kebangsaan.
Doa untuk Purwakarta dan Indonesia
Suasana semakin khidmat ketika doa dipimpin Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat sekaligus pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta.
Doa menjadi ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia sekaligus harapan agar Purwakarta, Jawa Barat, dan Indonesia senantiasa diberikan keamanan, kedamaian, persatuan, serta keberkahan.
Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi memiliki makna besar: bangsa yang kuat bukan hanya dibangun dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan karakter, persaudaraan, moral, dan kepedulian antarsesama.
MUI Purwakarta Ajak Tokoh Lintas Agama Bersama Bangun SDM
Sementara itu, Ketua Umum MUI Kabupaten Purwakarta Drs. KH. M. John Dien, Th., S.H., M.Pd., mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kebersamaan dalam membangun Purwakarta.
Ia secara khusus mengajak para kyai, ulama, tokoh agama Islam, serta tokoh agama Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu untuk bersama-sama bergerak membina dan memperkuat sumber daya manusia Purwakarta.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya berbicara mengenai infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.
Lebih dari itu, pembangunan harus menyentuh karakter manusia, keimanan, moral, akhlak, kedamaian, toleransi, serta persaudaraan.
“Mari bersama-sama bergerak membina dan menguatkan sumber daya manusia Purwakarta, membangun karakter, memperkuat keimanan, dan menjaga kedamaian agar Purwakarta tetap Istimewa,” pesannya Jhon Dien, Kamis 20 Agustus 2026.
Purwakarta Istimewa Karena Kerukunan
Peringatan Milad MUI ke-51 dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut akhirnya meninggalkan pesan yang jauh lebih besar dari sekadar perayaan.
Di tengah masyarakat yang beragam, persatuan menjadi kekuatan yang harus terus dirawat.
Ulama, pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kondusivitas, toleransi, persaudaraan, dan kedamaian.
Perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi tembok pemisah untuk berbuat baik.
Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dalam membangun kemanusiaan dan bangsa.
Dari Purwakarta, pesan itu kembali digaungkan:
Berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kemanusiaan.
Beragam dalam agama, bersama membangun bangsa.
Dengan semangat moderasi beragama, persaudaraan, kepedulian, dan gotong royong, Purwakarta diharapkan terus menjadi daerah yang religius, damai, berkarakter, serta mampu melahirkan sumber daya manusia unggul untuk Indonesia.
Purwakarta Istimewa bukan hanya karena pembangunan, tetapi juga karena masyarakatnya mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman.



















