Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) pada Kelompok Keahlian Business Strategy and Marketing (BSM) Prof Mustika Sufiati Purwanegara mengatakan, digitalisasi perlu diarahkan sebagai bagian dari pembangunan kapabilitas. Teknologi baru dapat menciptakan nilai ketika manusia dan organisasi memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya.
“Keterbukaan akses pasar melalui teknologi digital tidak serta merta menghilangkan power. Sebaliknya, kekuatan dapat berpindah kepada pihak yang menguasai akses, data, algoritma, dan perhatian konsumen,” tutur Mustika pada Orasi Ilmiah Guru Besar, di Aula Barat ITB, Sabtu 12 September 2026.
Menurut Mustika, Indonesia pada dasarnya tidak kekurangan knowledge. Perguruan tinggi memiliki dosen, peneliti, dan mahasiswa yang menghasilkan ilmu pengetahuan, riset, serta inovasi. Kemudian, pemerintah memiliki berbagai kebijakan dan program pembangunan. Industri memiliki pengalaman dalam penggunaan teknologi dan penciptaan solusi, sedangkan UMKM memiliki kreativitas, kearifan lokal, serta kemampuan adaptasi.
“Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menghubungkan, mengintegrasikan, dan mengimplementasikan berbagai pengetahuan agar dapat memberikan dampak yang lebih besar. Di sinilah ada konsep orkestrasi pengetahuan, yaitu upaya menghubungkan dispersed knowledge, aktor, dan sumber daya agar pengetahuan dapat ditransformasikan menjadi capability, value, dan societal welfare,” ungkap Mustika.
Mustika menekankan, orkestrasi pengetahuan tidak berhenti pada produksi pengetahuan. Akan tetapi, menghasilkan peningkatan kapabilitas, inovasi dan produktivitas, nilai tambah dan daya saing, hingga kesejahteraan dan kemakmuran bersama.
Baca selengkapnya

















