Pemuda NTB Berbicara: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Politik13 Dilihat

Perempuan NTB: Kemerdekaan yang Masih Harus Diraih

Memasuki tahun ke-81 kemerdekaan Indonesia, suara perempuan di Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mengingatkan bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh perempuan dan anak. Masalah seperti kekerasan seksual, ketidakamanan, akses pendidikan, serta keberanian untuk bersuara masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama.

Setiap bulan Agustus, kita merayakan kemerdekaan melalui upacara bendera, lomba, dan berbagai bentuk perayaan lainnya. Namun, kemerdekaan sesungguhnya adalah memaknai lebih dalam bahwa bebas bukan hanya dari penjajahan. Pertanyaannya, apakah perempuan NTB benar-benar telah merasakan kemerdekaan atas tubuh, suara, pendidikan, dan rasa amannya?

Sebagai perwakilan suara perempuan, saya menyuarakan kepedulian terhadap isu-isu yang sering kali diabaikan. Perempuan NTB memiliki kontribusi besar dalam pendidikan, pembangunan keluarga, perekonomian, partisipasi dalam organisasi, dan pengambilan bagian dalam pembangunan. Namun, di tengah kontribusi tersebut, masih ada masalah yang membelenggu, yaitu kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

Berdasarkan data SIMFONI PPA, terdapat 296 kasus kekerasan terhadap anak usia 0-17 tahun antara tahun 2020 hingga 2024. Angka ini kemungkinan lebih rendah dari kondisi sebenarnya karena banyak kasus yang tidak dilaporkan. Setiap angka laporan mewakili seorang anak atau perempuan yang membutuhkan keberanian untuk bersuara. Di balik setiap laporan, ada perempuan yang memilih diam karena takut, malu, tidak percaya diri, atau khawatir akan konsekuensi sosial.

Sebagai perempuan yang bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan, isu ini menjadi kegelisahan mendalam. Pendidikan seharusnya memberikan ruang untuk menumbuhkan pengetahuan dan kesadaran. Sekolah, kampus, pesantren, organisasi, dan ruang-ruang pembelajaran lainnya seharusnya menjadi tempat yang aman bagi perempuan. Namun, realitasnya, kekerasan bisa terjadi di mana saja, termasuk di tempat-tempat yang seharusnya menjunjung nilai kemanusiaan.

Pada tahun 2025, sebuah penelitian oleh Rakhmat Nur Adhi menunjukkan adanya kasus kekerasan seksual yang melibatkan institusi pendidikan, anak, dan remaja di NTB. Hasilnya menunjukkan relasi kuasa antara pelaku dan korban, di mana pelaku biasanya memiliki otoritas seperti guru, dosen, atau pembina. Korban, yang umumnya perempuan, berada pada posisi yang lemah.

Bagaimana mungkin ruang pendidikan yang seharusnya mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan justru menjadi tempat kekerasan? Ini bukan sekadar kritik terhadap institusi, tetapi juga introspeksi. Membangun ruang pendidikan yang aman tidak hanya tentang fasilitas, tetapi juga tentang memastikan siswa, mahasiswa, guru perempuan, santriwati, dan semua perempuan yang sedang belajar terbebas dari ancaman kekerasan dan memiliki keberanian untuk bersuara.

Sebagai perempuan yang terlibat dalam organisasi keperempuanan, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menegaskan bahwa perempuan harus memiliki pengetahuan agar mampu mengenali kekerasan, memahami hak-hak mereka, dan berani bersuara. Kami juga ingin mengampanyekan bahwa “kita semua harus berhenti menyalahkan korban” dan berhenti bertanya “mengapa tidak melawan?”.

Dalam perayaan 81 tahun kemerdekaan Indonesia, mari kita bergandengan tangan untuk menolak segala bentuk kekerasan di jalan, di sekolah, di kampus, di rumah, di tempat kerja, di ruang digital, dan di mana pun perempuan dan anak berada. Kita perempuan dan anak berhak atas tubuh, martabat, pendidikan, dan kehidupan yang aman. Kita menolak budaya menyalahkan dan membungkam korban.

Mari kita ciptakan ruang aman, perlindungan, tempat pengaduan, dan pendampingan bagi sesama perempuan. Mari kita dorong penguatan pendidikan pencegahan kekerasan seksual secara berkelanjutan. Sebab, kemerdekaan tidak hanya dirayakan, tetapi harus dirasakan. Bagi perempuan, kemerdekaan berarti belajar tanpa ancaman, berorganisasi tanpa intimidasi, bekerja tanpa pelecehan, berbicara tanpa dibungkam, dan hidup tanpa rasa takut.

Dari NTB untuk Indonesia, suara perempuan ingin mengingatkan bahwa masih ada perempuan yang takut bersuara, anak yang kehilangan rasa aman, dan korban yang justru disalahkan atas kekerasan yang dialaminya. Oleh karena itu, pekerjaan rumah kemerdekaan kita belum selesai.

Dari NTB untuk Indonesia, saya bersuara. Jika perempuan tidak lemah, maka saya percaya bahwa perempuan berhak hidup aman, bermartabat, dan merdeka.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *