Ringkasan Berita:
- Pengembangan panas bumi seharusnya tidak dilihat semata sebagai proyek penyediaan listrik.
- Sumber energi tersebut juga dapat dikembangkan untuk menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar wilayah operasi.
- Partisipasi publik tidak cukup berhenti pada proses sosialisasi.
, JAKARTA – Potensi panas bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat belum sepenuhnya bergerak dari kekayaan bawah tanah menjadi sumber energi.
Di tengah proses eksplorasi yang masih berlangsung, pengembangan energi tersebut menghadapi tantangan lain yang tak kalah penting: bagaimana memastikan masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan memiliki ruang untuk memahami sekaligus menyampaikan kekhawatirannya.
Persoalan itu mengemuka dalam diskusi publik bertajuk Geothermal Fun Day di Cianjur, Jawa Barat, Minggu (6/9/2026).
Kegiatan yang digelar Indonesia Geothermal Golf Community (IGGC) bersama Inisiatif Daulat Energi (IDE) tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, praktisi, pemuda, dan masyarakat untuk membahas potensi serta tantangan pengembangan panas bumi.
Diskusi menjadi relevan karena Cianjur merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi panas bumi, tetapi pengembangannya masih berada pada tahap eksplorasi.
Bukan Sekadar Persoalan Listrik
Direktur Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) P. Hadi Wijaya mengatakan, pengembangan panas bumi seharusnya tidak dilihat semata sebagai proyek penyediaan listrik. Menurut dia, sumber energi tersebut juga dapat dikembangkan untuk menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar wilayah operasi.
“Panas bumi bisa dimanfaatkan langsung oleh UMKM, mulai dari pengeringan kopi dan teh, hingga pembudidayaan ikan,” kata Hadi.
Konsep tersebut menempatkan panas bumi bukan hanya sebagai sumber energi untuk sistem kelistrikan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan ekonomi lokal.
Pemanfaatan langsung panas bumi, apabila disesuaikan dengan karakteristik wilayah, dapat membuka peluang bagi sektor pertanian, perikanan, maupun usaha kecil.
Namun, manfaat ekonomi tidak serta-merta menghapus kekhawatiran masyarakat. Penerimaan publik tetap menjadi bagian penting dalam setiap rencana pengembangan energi yang bersentuhan langsung dengan ruang hidup warga.
Rektor Universitas Putra Indonesia (UNPI) Cianjur, Dodi Faraitody, menilai persoalan tersebut perlu dijawab melalui transparansi, penegakan aturan, dan keterlibatan masyarakat sejak awal.
“Pendekatan kepada warga Cianjur harus dilakukan secara persuasif dan komprehensif agar masyarakat memahami manfaatnya secara menyeluruh, bukan sekadar formalitas administrasi,” ujarnya.
Menurut Dodi, partisipasi publik tidak cukup berhenti pada proses sosialisasi.
Masyarakat juga perlu memperoleh penjelasan mengenai mitigasi risiko, pengawasan, serta mekanisme penanganan apabila muncul persoalan dalam kegiatan pengembangan panas bumi.
Potensi Besar, Tantangan Pengembangan
Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar karena kondisi geologisnya berada di kawasan cincin api.
Potensi tersebut membuat panas bumi menjadi salah satu sumber energi yang dinilai penting dalam diversifikasi bauran energi dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Pakar geothermal dan Advisory Board Master Program ITB, Ali Ashat, mengatakan pengembangan kapasitas panas bumi menjadi salah satu bagian dari agenda peningkatan energi bersih Indonesia.
Ia menyebut pemerintah menargetkan tambahan kapasitas panas bumi hingga 5.000 megawatt pada 2034. Dalam konteks tersebut, wilayah yang memiliki potensi panas bumi, termasuk Cianjur, memiliki posisi penting.
“Acara seperti ini penting untuk mengkalibrasi informasi yang benar di tengah maraknya simpang siur informasi,” kata Ali.
Di sisi lain, panas bumi memiliki karakteristik berbeda dengan sejumlah sumber energi terbarukan lain. Pembangkit panas bumi dapat menghasilkan listrik secara relatif stabil karena tidak bergantung langsung pada kondisi cuaca seperti pembangkit tenaga surya atau angin.
Ketua IGGC sekaligus praktisi industri panas bumi, Riza Pasikki, mengatakan karakteristik tersebut membuat panas bumi berpotensi menjadi bagian dari sistem energi yang membutuhkan pasokan listrik stabil.
Ia juga menyebut keterlibatan tenaga kerja lokal menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan proyek panas bumi.
Menurut Riza, di sejumlah wilayah operasi, tenaga kerja lokal memiliki porsi besar dalam kegiatan industri tersebut.
Meski demikian, klaim mengenai manfaat dan keamanan pengembangan panas bumi tetap perlu ditempatkan dalam kerangka pengawasan dan standar yang berlaku.
Pengembangan energi, termasuk panas bumi, memiliki risiko teknis dan lingkungan yang harus dikelola melalui kajian, standar keselamatan, serta pengawasan yang memadai.
Karena itu, kualitas komunikasi publik menjadi penting. Informasi yang hanya menonjolkan manfaat tanpa menjelaskan risiko dan mekanisme mitigasinya berpotensi tidak menjawab pertanyaan masyarakat.
Tantangan Berikutnya adalah Kepercayaan
Persoalan penerimaan masyarakat pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan apakah panas bumi merupakan energi bersih atau bukan.
Yang lebih menentukan adalah sejauh mana warga percaya bahwa pengembangannya dilakukan secara transparan, aman, dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara nyata.
Aktivis muda M. Arief Rosyid Hasan menilai transisi energi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan kelompok generasi muda.
Menurut dia, perubahan sistem energi tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan lama.
Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar agenda energi bersih tidak berhenti pada kebijakan di tingkat pusat, tetapi dapat diterjemahkan menjadi manfaat di daerah.
Bagi Cianjur, tantangan tersebut menjadi semakin penting karena pengembangan panas bumi berlangsung beriringan dengan dinamika sosial di tingkat masyarakat.
Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menjembatani kepentingan pembangunan energi dengan hak masyarakat untuk memperoleh informasi, menyampaikan keberatan, dan ikut mengawasi proses pengembangan.
Rangkaian kegiatan di Cianjur kemudian ditutup dengan penyerahan bantuan berupa peralatan olahraga dan laptop kepada MA Persis No. 4 Cianjur dan MA Ulul Abshar Cilaku Cianjur.
Namun, di luar kegiatan tersebut, pekerjaan yang lebih panjang berada pada bagaimana membangun pemahaman publik mengenai panas bumi secara terbuka.
Jika potensi panas bumi Cianjur ingin berkembang menjadi bagian dari sistem energi nasional, persoalannya bukan hanya menemukan sumber panas di bawah permukaan, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat di atasnya.
Persoalan informasi dan penerimaan masyarakat tersebut tercermin dari pengalaman warga Cianjur yang mengikuti diskusi.
Salah seorang warga, Aldi, mengaku sempat memiliki pandangan negatif terhadap pengembangan panas bumi karena informasi yang diterimanya di lingkungan sekitar.
“Di sekitaran rumah saya memang masih banyak penolakan karena isu-isu simpang siur yang berkembang di masyarakat. Jujur, saya pribadi awalnya sempat ada rasa menolak. Namun setelah membaca berbagai literatur dan hadir di acara ini, pemahaman saya jadi terbuka tentang banyaknya manfaat geothermal,” kata Aldi dalam diskusi.
Menurut dia, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu lebih aktif menjelaskan aspek teknis maupun manfaat panas bumi secara langsung kepada masyarakat.
“Kami berharap para pemangku kepentingan bisa lebih masif dan turun langsung menjelaskan fakta geothermal kepada warga agar tidak ada lagi rasa was-was,” ujarnya.
















