Sempat Jadi Cibiran, Kades Ungkap Cerita Sebenarnya di Balik Lokasi KDKMP Desa Mandala Cilacap

Daerah9 Dilihat

Ringkasan Berita:

  • Lokasi pembangunan KDKMP Desa Mandala viral setelah fotonya ramai dibahas di media sosial.
  • Kades Salamet menyebut lokasi dipilih melalui musyawarah karena keterbatasan lahan permukiman dan kondisi geografis desa.
  • Lahan KDKMP disebut strategis, berjarak sekitar 500 meter dari permukiman dan berada dekat jalan kabupaten yang ramai.

 

, CILACAP – Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Mandala, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, mendadak menjadi perhatian setelah foto lokasi proyek tersebut beredar luas di media sosial.

Foto yang memperlihatkan kondisi lahan pembangunan itu diunggah oleh akun Facebook Wong Ngapak Real.

Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan caption, “Kopdes merah Putih didesa Mandala Kecamatan Cimanggu kab Cilacap ini bikin geleng-geleng kepala.”

Unggahan tersebut kemudian memicu beragam tanggapan dari warganet. Kondisi lokasi pembangunan menjadi bahan perbincangan, terutama terkait posisi lahan yang dinilai tidak seperti lokasi pembangunan pada umumnya.

Namun, Pemerintah Desa Mandala memberikan penjelasan berbeda mengenai kondisi tersebut.

Kepala Desa Mandala, Salamet, mengatakan lokasi pembangunan KDKMP bukan persoalan bagi pemerintah desa maupun masyarakat setempat.

Ia menyebut penentuan lokasi dilakukan melalui musyawarah dengan mempertimbangkan kondisi geografis Desa Mandala yang sebagian besar berada di kawasan pegunungan.

“Itu loh, yang orang malah di Facebook ya, orang lewat, tidak tahu lah, nggak tahu kondisi seperti apa di desa. Kalau di desa mah tidak ada masalah, warga tidak ada masalah, Pemdes tidak ada masalah, semua ini berdasarkan musyawarah,” kata Salamet kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (4/9/2026).

Menurut Salamet, keterbatasan lahan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan lokasi. Desa Mandala tidak memiliki lahan di kawasan permukiman yang dinilai memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat pembangunan KDKMP.

Karena itu, pemerintah desa mencari lahan alternatif yang tetap mudah dijangkau masyarakat dan mempunyai potensi untuk dikembangkan.

 

Kades Sebut Lokasi KDKMP Berada di Tengah Dusun

Salamet menjelaskan lokasi yang dipilih justru memiliki posisi yang cukup strategis karena berada di antara sejumlah dusun.

“Sebetulnya lokasi tersebut strategis, di tengah-tengah antara dusun satu dengan dusun yang lain.

Tengah-tengah sekitar 200 meter, nggak jauh,” ujarnya.

Ia mengatakan warga yang mengetahui kondisi wilayah secara langsung tidak mempermasalahkan lokasi tersebut. Menurutnya, penilaian terhadap lokasi juga tidak hanya datang dari pemerintah desa dan masyarakat.

Salamet menyebut Komandan Kodim (Dandim) yang sempat datang ke lokasi juga melihat adanya potensi pengembangan kawasan tersebut di masa depan.

“Lahannya strategis, yang tahu persis di sini mah, tahu, tidak ada yang komen, bahkan Dandim kesini bagus Pak Kades.

Nanti ke depannya bisa buat perluasan permukiman dan sebagainya gitu,” katanya.

Kepala Desa Mandala itu juga membantah anggapan bahwa bangunan KDKMP berada terlalu jauh dari permukiman warga.

Ia menyebut jarak lokasi dengan kawasan permukiman sekitar 500 meter.

“KDKMP itu tidak terlalu jauh dari pemukiman, yang jelas tidak jauh, cuma 500 meter.

Boleh dibuka di Google lah, boleh,” ucapnya.

Selain itu, lokasi KDKMP berada di sekitar jalan kabupaten yang disebut cukup ramai dilalui masyarakat. Jalan tersebut menjadi akses bagi warga dari beberapa desa.

“Itu jalan kabupaten rame, ini rame dari panjang. Di belakang pemukiman, ini mah rame jalan kabupaten.

Ini kan tiga desa lewat situ, rame,” jelas Salamet.

Dengan akses tersebut, Salamet menilai lokasi pembangunan tidak tepat jika disebut sebagai kawasan yang terisolasi atau sulit dijangkau masyarakat.

 

Bukan Dibangun di Atas Tebing

Sorotan lain yang muncul di media sosial berkaitan dengan kondisi kontur tanah. Salamet meluruskan anggapan bahwa bangunan KDKMP dibangun di atas tebing.

Menurut dia, lahan tersebut sebelumnya merupakan kebun jati. Kondisi tanahnya memang memiliki banyak batu atau wadas.

“KDKMP itu bukan di tebing, tapi lahan itu tadinya kebun jati. Pas di situ ada wadas, batu, wadas,” katanya.

Ia mengatakan lahan tersebut sebelumnya memang ditumbuhi tanaman, tetapi produktivitasnya dinilai rendah karena kondisi tanah yang kurang mendukung.

“Tadinya mah kebun jati tadinya.

Karena tidak ada lahan, susah, makanya kita musyawarah bagaimana karena program pemerintah harus ada lahan makanya kami menyodorkan,” ujarnya.

Lahan tersebut merupakan aset atau lahan desa yang sebelumnya digunakan sebagai kawasan perkebunan.

“Ini lahan perkebunan lah. Tapi wadas, nggak tumbuh.

Nggak tumbuh biar ditanamin. Yang lain nggak, paling pohon bambu, pohon jati, tapi itu pun nggak tumbuh,” jelasnya.

 

Lahan Hijau, tetapi Dianggap Kurang Produktif

Salamet mengakui lahan yang digunakan untuk pembangunan KDKMP termasuk lahan hijau. Namun, ia menegaskan status tersebut tidak otomatis berarti lahan tersebut selama ini menjadi lahan produktif bagi masyarakat.

Menurutnya, kondisi geografis dan keterbatasan lahan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah desa dalam menyediakan lokasi untuk menjalankan program pemerintah.

Saat ditanya kembali apakah lahan tersebut dipilih karena dianggap tidak produktif, Salamet membenarkannya.

Ia menyebut lahan itu memang berstatus lahan hijau, tetapi tidak produktif.

Sementara itu, pembangunan KDKMP Desa Mandala hingga Jumat (4/9/2026) masih berjalan dan belum rampung.

Salamet kembali menegaskan bahwa penentuan lokasi dilakukan melalui proses musyawarah.

Pemerintah desa harus menyediakan lahan untuk menjalankan program tersebut, sementara kondisi Desa Mandala yang berada di kawasan pegunungan membuat pilihan lokasi menjadi terbatas.

Bagi pemerintah desa dan warga yang memahami kondisi wilayah, lokasi tersebut dinilai masih memiliki sejumlah keunggulan.

Letaknya berada di antara dusun, dekat akses jalan kabupaten yang ramai, serta dinilai mempunyai peluang untuk dikembangkan pada masa mendatang. (jti) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *