Kondisi Jalan Rusak di Dondo, Tolitoli: Simbol Kekecewaan dan Harapan
Di tengah perjalanan dari Desa Malomba menuju Dusun Janja, Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli, terdapat deretan pohon pisang yang berdiri kokoh di badan jalan. Pohon-pohon ini bukanlah hasil dari alam yang tak terduga, melainkan simbol protes yang disengaja oleh warga setempat. Mereka menanam pohon-pohon tersebut sebagai bentuk sindiran terhadap kondisi infrastruktur jalan yang selama bertahun-tahun tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
Secara geografis, Kecamatan Dondo terletak di wilayah pesisir barat Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Jalur penghubung antara Desa Malomba dan Dusun Janja berada sekitar 80 hingga 90 kilometer dari pusat Ibu Kota Kabupaten, Kota Baolan. Meskipun lokasinya cukup jauh dari pusat pemerintahan, akses jalan ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Namun, kondisi jalan tersebut sudah lama dikeluhkan oleh warga. Mereka menyebut jalannya sebagai “terpelihara” karena kerusakan yang terus-menerus terjadi tanpa ada upaya perbaikan yang signifikan. Setiap kali melintasi jalan ini, warga menghadapi ancaman keselamatan yang nyata. Jalan yang berdebu dan rusak tidak hanya mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi juga sering menjadi penyebab kecelakaan tunggal.
Pohon-pohon pisang yang kini tumbuh di badan jalan tersebut menjadi simbol kejenuhan masyarakat Desa Malomba dan Dusun Janja. Akses vital yang seharusnya menjadi penopang roda ekonomi dan mobilitas harian justru menjadi jebakan yang mengancam keselamatan warga. Mereka sangat berharap agar Pemerintah Desa Malomba bersama Pemerintah Kabupaten Tolitoli dapat segera turun tangan untuk memperbaiki jalan tersebut.
Perbaikan jalan secara permanen dan memadai menjadi harga mati bagi warga. Tanpa adanya perbaikan yang nyata, masyarakat akan terus menghadapi risiko yang tidak bisa dihindari. Mereka ingin dapat beraktivitas dengan layak, aman, dan nyaman tanpa harus mempertaruhkan keselamatan jiwa mereka sendiri.
Beberapa upaya telah dilakukan oleh warga untuk menyampaikan keluhan mereka kepada pihak berwenang. Namun, sampai saat ini, belum ada tanda-tanda perbaikan yang signifikan. Warga berharap bahwa pemerintah akan lebih peka terhadap kondisi mereka dan segera mengambil langkah-langkah konkret untuk memperbaiki jalan tersebut.
Dalam situasi seperti ini, warga menunjukkan keteguhan dan keberanian mereka untuk menyuarakan aspirasi. Mereka tidak hanya sekadar mengeluh, tetapi juga berusaha menciptakan simbol-simbol perlawanan yang bisa menjadi peringatan bagi pemerintah. Dengan adanya pohon pisang di tengah jalan, mereka ingin menunjukkan bahwa masalah infrastruktur ini tidak boleh lagi diabaikan.
Tinggalkan Balasan