90% Listrik Masih Gunakan Energi Fosil, PLN EPI Incar Penggunaan Limbah Jadi Biomassa



PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus mempercepat upaya substitusi energi fosil dengan memanfaatkan biomassa di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Langkah ini dilakukan mengingat dominasi penggunaan batubara serta minyak dan gas dalam sistem ketenagalistrikan nasional saat ini.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir menjelaskan bahwa sebagian besar pembangkit listrik di Indonesia masih bergantung pada energi fosil. Oleh karena itu, pengoptimalan program co-firing biomassa menjadi salah satu strategi utama perusahaan untuk menekan emisi karbon sekaligus mendukung target dekarbonisasi nasional.

“Sekitar 90% pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan energi fosil. Karena itu, kami terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batubara untuk mendukung agenda dekarbonisasi dan pencapaian Net Zero Emissions,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Hokkop menegaskan bahwa seluruh bahan baku biomassa yang digunakan PLN EPI berasal dari limbah atau residu industri kehutanan, perkebunan, hingga pertanian. Pendekatan ini diterapkan untuk memastikan bahwa proses substitusi energi tidak memicu aktivitas penebangan hutan maupun merusak kelestarian lingkungan hidup.

“Kami memanfaatkan residu yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, biomassa tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor kehutanan dan perkebunan tanpa mengorbankan kelestarian hutan,” jelasnya.

Untuk menjaga kelancaran pasokan, PLN EPI juga membangun model ekosistem Spoke–Hub serta memanfaatkan sistem digitalisasi Marketplace Biomassa. Infrastruktur ini dirancang khusus untuk menghubungkan titik pengumpulan bahan baku, pengolahan, hingga distribusi menuju ke 52 lokasi PLTU yang tersebar di wilayah Indonesia.

Lebih lanjut, Hokkop menargetkan volume penyediaan biomassa dapat terus meningkat hingga mencapai angka 3,65 juta ton sepanjang tahun 2026 ini. Penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir tersebut diharapkan mampu menjamin kontinuitas pasokan bahan bakar ramah lingkungan tanpa mengganggu keandalan operasional pembangkit listrik secara keseluruhan.

Strategi Substitusi Energi Fosil

PLN EPI mengambil langkah-langkah strategis untuk mengganti energi fosil dengan biomassa. Berikut beberapa inisiatif yang dilakukan:

  • Program Co-Firing

    Program ini melibatkan campuran biomassa dengan batubara di PLTU untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Proses ini membantu menurunkan kadar emisi karbon yang dihasilkan oleh pembangkit listrik.

  • Penggunaan Limbah Industri

    Biomassa yang digunakan berasal dari limbah atau residu industri seperti kehutanan, perkebunan, dan pertanian. Hal ini memastikan bahwa penggunaan biomassa tidak menyebabkan kerusakan lingkungan.

  • Ekosistem Spoke-Hub

    Model ini dibangun untuk menghubungkan berbagai titik pengumpulan, pengolahan, dan distribusi bahan baku biomassa. Dengan demikian, pasokan biomassa menjadi lebih efisien dan terintegrasi.

  • Digitalisasi Marketplace Biomassa

    Sistem digitalisasi memudahkan koordinasi antara pemasok dan pembeli biomassa. Teknologi ini juga meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam pengelolaan rantai pasok.

Target Tahun 2026

PLN EPI menetapkan target peningkatan volume penyediaan biomassa hingga mencapai 3,65 juta ton pada tahun 2026. Target ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung dekarbonisasi nasional dan mencapai Net Zero Emissions.

Dengan penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir, PLN EPI berharap bisa memastikan kontinuitas pasokan bahan bakar ramah lingkungan tanpa mengganggu keandalan operasional pembangkit listrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *